Minggu 10 Oktober 2021, 09:30 WIB

Gedongsongo, Peradapan Nusantara Di Abad 7-9 Masehi

Akhmad Safuan | Nusantara
Gedongsongo, Peradapan Nusantara Di Abad 7-9 Masehi

MI/Akhmad Safuan
Candi Gedongsongo di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah merupakan peninggalan sejarah Nusantara dibangun Abad 7-9 masehi.

 

CANDI Gedongsongo di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang kian isotik dan menarik, pembenahan dilakukan dan munculnya objek wisata baru disekitar candi Hindu dibangun pada jaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi) menambah semaraknya dunia wisata di Jawa Tengah ini.

Sempat mengalami surut karena pandemi covid-19 dan ditutup untuk sementara dari kunjungan wisatawan seperti objek wisata lainnya, Candi Gedongsongo yang terletak dikeringkan 1.200 meter dari permukaan laut di lereng Pegunungan Ungaran kembali dibuka untuk menerima kunjung meskipun terapi dengan protokol kesehatan ketat.

Candi yang memiliki kesamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo dengan sembilan candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah dilengkapi berbagai fasilitas seperti pemandian air panas mengandung belakang, arena perkemahan dan wisata berkurang.

Kini Candi Gedongsongo kian semarak dengan munculnya objek wisata baru di sekitarnya seperti Ayanaz, taman bunga celosia serta hotel dan penginapan cukup indah dengan pemandangan alam pegunungan di sekitar berjalan di sepanjang jalan menuju areal candi.

Awal Penemuan

Kawasan Cagar Budaya Gedonsono sesuai catatan Dinas Purbakala Jawa Tengah, diperkirakan oleh para ahli dibuat hampir bersamaan dengan Candi Dieng yang dibangun pada kurun waktu abad ke 7 sampai 9 Masehi pada masa Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Lama.

Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat yang berasal dari bahasa Jawa, Gedong berarti rumah atau bangunan dan Songo berarti sembilan, sehingga Gedongsongo mempunyai arti sembilan bangunan dengan struktur tiga bagian yaitu bagian bawah (alas candi) yang menggambarkan alam manusia, bagian tengah candi menggambarkan alam yang menghubungkan alam manusia dan lama dewa, dan bagian atas (puncak candi) yang menggambarkan alam para dewa.

Keberadaan candi-candi pertama kalibdiungkapkan oleh Loten pada tahun 1740 Masehi yang kemudian tahun 1840 dilaporkan kepada Th. Stamford Raffles sebagai Candi Banyukuning, namun dalam bukunya The History of Java (1817) Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena pada saat itu hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan.

Van Braam membuat publikasi pada tahun 1825 Masehi dengan membuat lukisannya yang sekarang disimpan di Museum Leiden. Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedongsongo pada tahun 1865 Masehingga setelah ditemukan dan dilakukan beberapa penelitian terhadap candi oleh para arkeolog Belanda, antara lain Van Stein Callenfels (1908 M) dan Knebel (1911 M).

Dalam penelitian tersebut ditemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo (dalam bahasa Jawa berarti sembilan bangunan), selanjutnya pada tahun 1928 - 1929 Masehi dinas purbakala pada zaman pemerintahan Belanda melakukan pemugaran terhadap Candi Gedong I.

Kemudian pada tahun 1939-1931 dilakukan pemugaran terhadap Candi Gedong II. Pada tahun 1977-1978 Candi Gedong II, Candi Gedong IV, dan Candi Gedong V dipugar oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah dan penataan lingkungan juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia selama hampir 10 tahun dari tahun 1972 - 1982 serta Tahun 1997 dilakukan penataan dan pengembangan Kompleks Percandian Gedongsongo oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Cagar Budaya dan Peribadatan

Kondisi Candi Gedongsongo telah menjadi salah satu ikon tempat wisata menarik dikunjungi di Jawa Tengah, selain Borobudur, Prambanan, Dieng dan candi lainnya yang banyak bertebaran di daerah, candi ini juga menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia yang masih ada serta menjadi tempat peribadatan umat beragama Hindu.

Sesuai dengan keindahan dan kenaikan candi yang bertebaran di kawasan Lereng Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Gedongsongo yang teregister Cagar Budaya Nasiona nomor CB 39 dengan surat keputusan penetapan Menteri Nomor 195/M/2015 tertanggal 26 Oktober 2015 dan SK Nomor PM.24/Pw.007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007, memiliki kenaikan bentuk dan tempat

Keindahan alam sekitar yakni di daerah pegunungan yang berdarah sejuk serta pemandangan alam menjadi daya tarik tersendiri, karena para pengunjung harus berjalan sekitar dua kilometer menaiki perbukitan untuk dapat menikmati keindahan dari mulai candi pertama hingga tertinggi di candi kesembilan.

Para pengunjung Candi Gedongsongo, selain disuguhi keindahan alam berdarah sejuk dan aneka bunga di sepanjang perjalanan mendaki tidak perlu berkecil hati karena capek, setelah menginjak kaki ke candi keempat dapat meredakan rasa lelah sejenak dengan berendam di air panas alami, meskipun aroma belerang cukup menyengat dari sekitar celah Gunung.

Setelah sampai ke puncak tertinggi di candi kesembilan, pengunjung baik untuk keperluan berwisata maupun beribadah dapat menikmati kota-kota di lereng Gunung Ungaran seperti Ambarawa, Sumowono, Bandungan dan Ungaran dari ketinggian, termasuk hamparan buru Rawa Pening serta awan yang bergelantungan terasa cukup dekat diatas kita berdiri.

Bagi pengunjung yang yang tidak memiliki stamina yang cukup, juga tidak perlu berkecil hati karena di kawasan itu tersedia penyewaan kuda dengan tarif Rp75.000-Rp150.000 tergantung panjang dan pendeknya jalur yang dikehendaki, sehingga dengan tiket masuk Rp10.000 per orang rasa dahaga jasmani dan rohani akan terobati setelah mengunjungi Cagar Budaya ini.

Tidak hanya saat mendaki menuju ke puncak tertinggi keberadaan candi saat turun melintasi sisi lain juga disuguhi keindahan hutan cemara sepanjang jalan dicintai, desingan nyanyian alam terdengar bersamaan dari setiap gesekan daun dan ranting cemara yang tertiup angin Gunung.

Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah, Riyadi Kurniawan mengatakan, setelah cukup lama tutup karena covid-19, saat ini sudah ada 337 dari 690 tempat wisata yang dibuka. "Sudah 48 persen dibuka dan 12 persen lainnya masih simulasi," ujarnya.

Tempat wisata yang telah dibuka kembali, demikian Riyadi, tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat, selain wajib menggunakan master  cuci tangan dan menjaga jarak, para pengunjung juga diwajibkan menunjukan kartu vaksin sast memasuki tempat wisata tersebut. (OL-13)

Baca Juga: Wisata di Pantai Rubiah

Baca Juga

MI/Djoko Sardjono

Klaten Luncurkan Program Tuntas Vaksinasi Berhadiah Sepeda Motor

👤Djoko Sardjono 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:36 WIB
BUPATI Klaten Sri Mulyani meluncurkan program kabupaten tuntas vaksinasi di Pasar Srago, Klaten, Senin...
MI/HARYANTO

Semen Gresik Bantu Disabilitas Menjadi Mandiri

👤Haryanto 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:35 WIB
Semen Gresik Sahabat Difabel terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan inklusif dengan menggenjot pemberdayaan...
MI/BAYU ANGGORO

Apindo Apresiasi Keputusan Gubernur Jabar Menetapkan UMP Seusai UU Cipta Kerja

👤Bayu Anggoro 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:30 WIB
Dengan adanya keputusan itu membuat pengusaha memiliki kepastian serta visabilitas yang membantu dalam membuat perencanaan bisnis ke...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya