Minggu 26 September 2021, 14:33 WIB

Pembebasan Lahan Kini Tak Lagi Ganti Rugi, tapi Ganti Untung

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Pembebasan Lahan Kini Tak Lagi Ganti Rugi, tapi Ganti Untung

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Pesawat Citilink mendarat di Yogyakarta International Airport (YIA). Pembebasan lahan untuk bandara YIA berdampak lahirnya miliarder.

 

PEMBEBASAN lahan dalam proyek Bandara Internasional Yogyakarta, Jalan Tol Jogja-Bawen, Jogja-Solo, dan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) telah membuat banyak orang di DIY menjadi miliarder baru. Alhasil, istilah ganti  rugi dalam proyek pembebasan lahan kini berubah menjadi ganti untung.

"Di peraturan saat ini sudah memasukkan nilai ganti untung," papar Arie Wibowo, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Keuangan, Pusat Pembinaan Profesi Keuangan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Keuangan di sela-sela Musda Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi) DIY, Sabtu (25/9).

Maksud dari ganti untung adalah nilai pembebasan lahan pun bisa dihitung di atas nilai pasar karena memasukkan berbagai faktor, seperti lama tinggal, faktor sosial, hingga keterikatan emosi dengan lahan yang dibebaskan. Penilai nantinya yang akan menguantifikasikannya sesuai aturan.

baca juga: Yogyakarta International Airport

Arie pun menjabarkan, pada zaman dulu, penilaian pembebasan lahan dihitung dari nilai pasar ditambah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) kemudian dibagi dua. Akibatnya, nilai pembebasan lahan selalu berada di bawah nilai pasar.

Penilaian pembebasan lahan saat ini, aku dia, tentu lebih rumit dibandingkan sebelum-sebelumnya karena lebih banyak faktor yang
diperhitungkan. "Penilaian pembebasan lahan sekarang lebih complicated. Namun, kalau dapat membuat senang masyarakat, kenapa tidak?" papar dia.

Menurut dia, pembebasan lahan saat ini sudah sesuai dengan ketentuan internasional. Artinya pembebasan lahan jangan sampai merampas hak masyarakat, tetapi mereka mendapat penggantian yang sesuai.

Walau demikian, ia mengakui, tetap ada orang-orang yang merasa keberatan dan tidak puas dengan nilai pembebasan lahan hingga melakukan manipulasi fakta. Oleh sebab itu, kejelian dan ketelitian dari tim penilai ketika memberikan penilaian atas lahan yang akan dibebaskan.

Dalam kesempatan itu, ia pun mendorong Mappi untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam melakukan penilaian. Namun, pada saat bersamaan, pemanfaatan teknologi tersebut, harap dia, jangan sampai menghilangkan peran dari penilai.

Ketua Mappi DIY, Uswatun Khasanah menceritakan, tim penilai pasti melakukan survei terlebih dulu sebelum menentukan nilai pembebasan lahan. Dengan cara itu, mereka bisa menentukan nilai secara tepat. Pasalnya, di lapangan ada saja orang yang berusaha memanipulasi fakta. Misalnya, pedagang mengaku omsetnya mencapai 10 juta dalam sehari.

Pihaknya tentu tidak bisa mempercayai begitu saja. Ia akan mengecek rumah tinggal si pedagang dan melihat kegiatan sehari-hari si pedagang, termasuk kegiatan berdagangnya. Dengan cara itu, pihaknya sudah punya database sebelum melakukan penilaian.

"Setiap kami tanda tangan selalu Bismillah, semoga tidak ada apa-apa karena dari tanda tangan kami nanti nanti keluar uang negara," tutup dia. (N-1)

 

 

Baca Juga

DOK/POLDA SULSEL

Polda Sulawesi Selatan Bentuk Satgas Pemberantas Mafia Tanah

👤Lina Herlina 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 21:50 WIB
Sejumlah aset milik negara di Kota Makassar digugat satu orang, dengan surat bukti tanah era Hindia...
ANTARA/Irfan Anshori

Ganjar Minta Wali Kota Salatiga dan Bupati Semarang Siaga

👤Akhmad Safuan 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 20:55 WIB
Gempa bumi terjadi dua hari berturut-turut di Semarang dan...
MI/DJOKO SARDJONO

BPBD Klaten Kehabisan Anggaran Kegiatan Pengedropan Air Bersih

👤Djoko Sardjono 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 20:40 WIB
Dana sebanyak Rp241 juta sudah habis untuk mendistribusikan air ke tujuh...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya