Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT Kampung Mariana Ilir, Kecamatan Banyuasin I, belakangan ini mengeluhkan keberadaan galangan kapal, milik PT. Mariana Bahagia, yang berada di bibir Sungai Musi, dekat Pulau Salah Nama.
Pasalnya, perusahaan ini dianggap acap kali menghasilkan limbah dari aktivitas renovasi dan pemotongan kapal-kapal, dan kurang peduli terhadap masyarakat sekitar
Selain itu, kegiatan pemotongan kapal-kapal yang menggunakan sistem sandblasting, atau proses penyemprotan abrasive dengan material pasir acapkali menimbulkan debu yang mengotori pemukiman warga di sekitar lokasi.
"Kondisi ini sebenarnya sudah sering terjadi. Namun, selama ini warga lebih memilih diam," ujar Asnawi, seorang nelayan yang tinggal tak jauh dari lokasi galangan kapal, Jumat (16/7).
Asnawi ini juga bercerita belum lama ini ada kegiatan pemotongan kapal tangker dengan nama kapal Satria Satu. Saat itu banyak sekali debu pasir yang beterbangan terbawa angin masuk ke pemukiman warga. Selain tu air
sungai juga menjadi keruh, sehingga nelayan kesulitan mencari ikan.
"Sekarang ada dua kapal lagi yang sudah menunggu untuk dipotong-potong. Itu artinya, kami harus siap-siap menerima debu sandblasting, dan tercemarnya air Sungai Musi," tambah Asnawi.
Kondisi ini, juga akan diperparah oleh aktivitas galangan kapal, milik perusahaan lain, yang berada tak jauh dari tempat pemotongan kapal tersebut. Air sungai juga menjadi keruh, karena limbah karat dari badan kapal yang disemprot pasir itu, mengair ke alur sungai Musi.
"Di sini kan banyak warga berprofesi nelayan yang masih mencari ikan di sekitar perairan sungai Musi itu, saya khawatir dampaknya berpengaruh terhadap kesehatan mereka," ucap Asnawi.
Pencemaran sungai Musi sendiri sangat berpengaruh terhadap perubahan dalam lingkungan sekitarnya. Jika dibiarkan dapat menimbulkan akibat buruk. Gangguan terhadap kondisi sungai Musi bisa menurunkan kwalitas air sungai dan dipastikan berbahaya bagi kesehatan manusia yang menggunakan air tersebut. Instansi terkait harus bisa mengkaji ulang dan menganalisa dampak bahaya yang ditimbulkan.
"Secara pandangan mata saja, sudah jelas ada perubahan air di sungai Musi ini. Bau tidak sedap juga ditimbulkan. Diperparah karena dangkalnya sungai Musi, sehingga makin membuat kondisi air sungai berwarna kecoklatan, dan berminyak," tambahnya.
Karena itu, masyarakat Mariana Ilir berharap pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup melakukan pengecekan ke lokasi. Sebab aktivitas yang terjadi di kawasan galangan dan pemotongan kapal itu dikawatirkan dapat
menimbulkan bahan berbahaya dan beracun.
"Harusnya, aktivitas pemotongan kapal dan kegiatan sandblasting tidak berada di bibir sungai, dan jauh dari pemukiman penduduk. Sebab, limbah yang dihasilkan akibat aktivitas pasti mengalir sungai yang selam aini
menjadi urat nadi kehidupan masyarakat nelayan. Pengusaha harus memikirkan masyarakat sekitar," pintanya.
Sebagaimana diketahui, lokasi galangan kapal milik PT Mariana Bahagia ini juga dekat dengan gedung sekolah SMP, Puskesmas, dan pemukiman warga.
Masyarakat Mariana Ilir sangat berharap pihak manajemen perusahaan galangan kapal dapat merelokasi aktivitas pemotongan kapal di tempat lain. Sesuai UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, tempat yang dikhususkan harus memiliki izin lingkungan hidup. (OL-13)
Baca Juga: 47 Desa Terdampak Banjir Kapuas Hulu di Kalimantan Barat
Di luar sanksi hukum, WALHI Sumut menekankan pentingnya agenda pemulihan ekosistem yang terencana, terukur, dan melibatkan masyarakat terdampak.
Menag juga mencontohkan perilaku ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi SAW untuk berhemat air saat berwudu.
Baterai kertas umumnya menggunakan substrat berbasis selulosa, yakni kertas, sebagai struktur utama yang digabung dengan material elektroda dan elektrolit yang aman serta mudah terurai.
Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini menegaskan bahwa upaya penurunan emisi gas rumah kaca dapat dimulai dari langkah yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak perempuan Indonesia mengambil peran aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Peserta diajak meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian Bumi dari ancaman seperti polusi, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas sumber daya alam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved