Selasa 04 Mei 2021, 11:34 WIB

Ngada Belajar Manajemen Pemasaran Tenun Ikat di Sikka

Gabriel Langga | Nusantara
Ngada Belajar Manajemen Pemasaran Tenun Ikat di Sikka

MI/Gabriel Langga
Pemkab Ngada melakukan studi banding ke Kabupaten Sikka untuk belajar manajemen pemasaran tenun ikat.

 

KEUNGGULAN pemasaran tenun ikat di Kabupaten Sikka, NTT menyebabkan Pemkab Ngada pun tertarik untuk belajar teknik manajemen pemasaran tenun ikat.

Hal ini dilakukan mengingat tenun ikat asal Sikka sudah bisa menembus pasar dunia. Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada, Laurensius Ngiso Godja mengatakan, pihaknya bersama dengan organisasi Masyarakat Perlindungan
Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Ngada turun ke Kabupaten Sikka untuk belajar sistem pengelolaan manajemen pemasaran tenun ikat yang ada di kelompok-kelompok tenun ikat binaan Pemkab Sikka.

Selain itu, mereka juga belajar tentang sistem manajemen organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Sikka yang sudah berjalan bagus.

"Tujuan kita ke Sikka hanya mau belajar tentang bagaimana sistem kerja di tingkat manajemen kelompok-kelompok tenun ikat, manajemen MPIG dan bagaimana pemasaran tenun ikat dilakukan oleh teman-teman di Sikka hingga bisa tembus di pasar nasional dan internasional. Ini yang kita mau sharing dan belajar di Sikka," lanjut Laurensius saat meninjau Sentra tenun ikat Jata Kapa
milik Pemkab Sikka, Selasa (4/5).

Laurensius menuturkan, ada 12 motif tenun ikat warisan leluhur di Ngada yang saat ini mau diusulkan agar mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) hingga mendapatkan nomor Sertifikat Indikasi Geografis. Karena itu, pihaknya datang belajar di Sikka mengingat tenun ikat di Sikka adalah yang pertama di Indonesia memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis.

baca juga: Tenun Ikat

Banyak sekali motif tenun ikat khas Ngada yang merupakan warisan turun temurun nenek moyang dan mulai ditiru di berbagai tempat dengan teknologi mesin tenun.

"Banyak orang gunakan teknologi mesin tiru motif tenun ikat khas Ngada. Ini artinya sangat memengaruhi semangat penenun kelompok-kelompok tenun ikat di Ngada. Jadi kita perlu patenkan motif tenun ikat khas Ngada ini. Seperti yang dilakukan di Sikka, motif mereka sudah memiliki hak paten," sebut dia

Apabila motif tenun ikat khas Ngada dipatenkan maka bisa mendorong desa-desa yang dulunya pernah menjadi desa penenun akan dihidupkan kembali untuk meningkatkan ekonomi para penenun.

"Pasar tenun ikat di Ngada masih lokal. Beda di Sikka yang sudah sampai ke luar negeri. Sehingga kita patenkan tenun ikat kita hingga dapatkan Sertifikat Indikasi Geografis. Nantinya tenun ikat Ngada bisa dipasarkan ke luar daerah atau ke luar negeri," pungkasnya. (OL-3)

 

Baca Juga

ANTARA

Objek Wisata di Situbondo Tutup Selama Libur Lebaran

👤Astri Novaria 🕔Kamis 13 Mei 2021, 22:09 WIB
Tempat wisata yang mulai ditutup itu, antara lain Wisata Bahari Pasir Putih, Kampung Kerapu, Talempong, Grand Patek, dan Pantai...
Antara

Pelabuhan Bakauheni akan Terapkan Skrining Tambahan

👤Yanti Nainggolan 🕔Kamis 13 Mei 2021, 18:32 WIB
Mengingat, Pelabuhan Bakauheni di Lampung merupakan perbatasan wilayah Jawa dan Sumatera. Skrining ganda juga tindak lanjut surat Satgas...
ANTARA

Gunung Sinabung 2 kali Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.000 Meter

👤Astri Novaria 🕔Kamis 13 Mei 2021, 16:21 WIB
Aktivitas Sinabung masih sangat tinggi dan dapat terjadi erupsi dan awan panas susulan kapan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Toleransi tak Pernah Putus di Adonara

Bencana membuat masyarakat Adonara semakin rukun. Ramadan lebih mempersatukan mereka.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya