Rabu 31 Maret 2021, 06:38 WIB

Dosen dan Tenaga Kependidikan UII Mulai Divaksinasi

Agus Utantoro | Nusantara
Dosen dan Tenaga Kependidikan UII Mulai Divaksinasi

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Petugas Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama menyuntikan vaksin covid-19 kepada lansia, Selasa (30/3/2021). (foto ilustrasi)

 

LANGKAH awal menuju pembelajaran tatap muka, Universitas Islam Indonesia memberikan vaksin covid-19 kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan sebagai bagian untuk menurunkan risiko terpapar virus korona.

Bahkan vaksinasi ini juga diberikan kepada para lansia purna tugas di lingkungan PTS tertua di Indonesia tersebut serta 300 lansia yang tinggal di sekitar kampus. Pelaksanaan vaksinasi massal yang melibatkan vaksinator dari dosen Fakultas Kedokteran UII, Rumah Sakit JIH dan Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI ini diselenggarakan di di Auditorium K.H. Abdulkahar 
Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (30/3). 

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karier UII Dr. Zaenal  Arifin, M.Si. menjelaskan UII sangat peduli dengan kesehatan bersama dan sekitar. Selain dosen, tenaga kependidikan, serta purna tugas, ada juga warga sekitar yang dilibatkan pada program vaksinasi. 

"Kami ingin berkontribusi sebagai universitas yang rahmatan lil alamin, jadi warga  sekitar UII juga punya kesempatan untuk ikut dalam vaksin. Dengan memenuhi ketentuan dan prasyarat dari Dinas Kesehatan Sleman.  Keseluruhannya, 1939 orang," kata Zaenal, Selasa (30/3).

Program vaksinasi massal bagi keluarga besar UII semakin menambah optimistis persiapan aktivitas luring yang telah direncanakan. Menurut dia, persiapan menuju pembelajaran tatap muka atau luring itu  sudah dimulai sejak awal 2021 dengan rencana kerja dan anggaran, penjadwalan awal semester pembelajaran tatap muka dan lain sebagainya. 


"Meskipun tidak mungkin luringnya seperti sebelum pandemi, mungkin kita akan coba dulu 20% yang memang wajib di sana," jelas Zaenal Arifin.

Pembukaan aktivitas luring ini, ujarnya,  nantinya akan dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang sesuai standar. Hal ini untuk tetap menekan angka penyebaran virus Covid-19, meskipun sebagian dari civitas akademika UII telah mendapat vaksin. 

"Mungkin sedikit lebih aman karena mayoritas warga UII sudah divaksin, yang jadi problem adalah mahasiswa yang belum divaksin, ini akan kita perhatikan dengan baik agar tidak 
menjadi masalah," katanya lagi.

Sementara Dekan Fakultas Kedokteran UII dr Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK. (K) mengatakan meskipun mengikuti vaksinasi protokol kesehatan harus tetap diperhatikan yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi berpergian. Menurut Linda Rosita, menghindari kerumunan juga menjadi perhatian pada pelaksanaan program vaksinasi UII.

"Poin ini harus ditegakkan karena potensi penularan bisa sangat tinggi pada lingkungan yang berkerumun," tuturnya.

Linda Rosita menjelaskan, program Vaksinasi UII diatur melalui lima meja secara berurutan. Pada meja pertama, penerima vaksin diukur suhu dan tensinya. Suhu yang diperbolehkan adalah  37,5Í’C, dan tekanan darah  180/100. Selanjutnya penerima vaksin melakukan verifikasi data NIK di meja 2, kemudian pada meja 3 petugas kesehatan memberikan pertanyaan seputar riwayat kesehatan penerima vaksin.

"Dalam tahap ini sangat memungkinkan untuk tidak melanjutkan ke proses selanjutnya karena tidak sesuai dengan standar penerima vaksin," sebutnya.

Proses pasca vaksin akan berlangsung selama 2 minggu pertama. Penerima vaksin diwajibkan memperhatikan kondisi fisiknya selama kurung waktu tersebut. Apabila ada tanda-tanda reaksi vaksin yang mengganggu seperti bengkak, kemerahan, atau pendarahan di area penyuntikan, muntah, diare, pingsan, kejang, sesak napas, demam tinggi lebih dari satu hari, pembesaran kelenjar di ketiak atau bagian tubuh lain, lemah otot, penurunan kesadaran, serta gejala lain yang sebelumnya tidak ada, maka penerima vaksin disarankan untuk dapat menghubungi fasilitas kesehatan terkait untuk dapat menyampaikan keluhannya.

baca juga: Butuh Dukungan Semua Pihak untuk Terapkan 3T

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UII dr. Erlina Marfianti, M.Sc., Sp.PD. menambahkan, pada kasus-kasus penyakit kronis sebenarnya tetap boleh mendapatkan vaksin, selama saat hari H penerima vaksin dalam keadaan stabil dan tidak akut. Namun ia tetap menyarankan untuk berkonsultasi pada dokter yang biasa menanganinnya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar penerima vaksin dapat memastikan dirinya layak divaksin setelah mendapat persetujuan dari dokternya.

"alau sudah biasa ke dokter lebih baik dikonsulkan dulu, karena dokternya yang tahu perjalanan penyakitnya. Selain itu, bagi penderita alergi terhadap bahan-bahan kimia seperti obat-obatan, disarankan untuk dapat melaksanakan vaksinasi di fasilitas kesehatan," jelasnya. (OL-3)


 

Baca Juga

Ist

SPKS Bagikan Sembako ke Petani Kelapa Sawit Berlahan Kecil di 13 Kabupaten 

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 September 2021, 21:28 WIB
Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS) menyalurkan paket bantuan darurat kepada sekitar 1.600 petani sawit kecil di 14...
Kodam Cenderawasih

Jelang PON Papua, Kodam Cenderawasi Kebut Vaksinasi

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 25 September 2021, 17:57 WIB
Hingga saat ini vaksinasi di Kabupaten Merauke sudah mencapai 66%, Kota Jayapura 63% dan di Kabupaten Keerom di atas...
Ist

Vaksinasi untuk Negeri Bagi Pelajar dan Santri Kembali Digelar di Makassar

👤mediaindoensia.com 🕔Sabtu 25 September 2021, 17:30 WIB
Vaksinasi Covid-19 yang menyasar kalangan pelajar, santri,dan organisasi kepemudaan ini, digelar di Pondok Pesantren Ulul Albab, Makassaer,...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya