Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEGEMPAAN guguran Gunung Merapi dari hari Kamis (18/3) pukul 18.00 WIB hingga hari Jumat (19/3) pukul 06.00 WIB tercatat sebanyak 97 kali.
"Amplitudo maksimal 30 milimeter dan durasi maksimal 137 detik," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi Dwi Jayanto, Jumat (19/3) pagi.
Kegempaan lainnya berupa hembusan 3 kali, fase banyak dan tektonik jauh masing-masing satu kali. Teramati pula 45 kali guguran lava pijar yang meluncur sejauh 1.200 meter dari puncak yang mengarah ke barat daya.
"Asap kawah teramati membubung setinggi 200 meter," ucapnya.
Baca juga: Masyarakat Lereng Merapi Diminta Waspada Bahaya Lahar
Sedangkan cuaca di kawasan puncak, Dwi Jayanto mengatakan cerah dan berawan, angin bertiup lemah ke arah tenggara. Sedangkan kelembaban udara berkisar 63-89% dan tekanan udara 757-943 mmHg.
Saat ini, status masih Siaga atau Level III.
"Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," tukasnya.(OL-5)
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Jarak luncur ke-8 kali awan panas guguran itu maksimum 1.500 meter dari puncak dan mengarah ke barat daya atau mengarah ke hulu Kali Krasak, Bebeng dan Sat/Putih.
BPPTKG Yogyakarta melihat adanya sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya Gunung Merapi, akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava.
BPPTKG Yogyakarta menyatakan luncuran awan panas guguran maupun lava Gunung Merapi, masih dalam jarak aman dari permukiman maupun destinasi wisata di lereng gunung itu.
BADAN Geologi ESDM menyebut dari sekitar 500 gunung api di Indonesia, pertengahan Desember ini sebanyak 3 gunung berstatus siaga, 24 waspada, dan total 127 gunung api berstatus aktif.
"Jadi memang wajar (terjadi guguran) ketika musim hujan di bulan November, Desember (2025), kemudian puncaknya nanti Januari, Februari (2026) itu intensitas guguran akan sedikit meningkat,"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved