Kamis 19 November 2020, 14:05 WIB

Kalau Bisa, KTNA Sragen Pilih BLT Ketimbang Kartu Tani

Widjajadi | Nusantara
Kalau Bisa, KTNA Sragen Pilih BLT Ketimbang Kartu Tani

MI/Widjajadi
Pupuk subsidi yang masih menjadi problema bagi petani di Sragen dan daerah lain.

 

KONTAK Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen lebih memilih program pupuk subsidi diganti dengan bantuan tunai langsung (BLT) kepada petani, ketimbang program kartu tani, yang dianggap ribet. Apalagi kuota pupuk subsidi selalu kurang dan tidak pernah sesuai dengan usulan Rencana Difinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tani di daerah.

"Kalau bisa memilih, berikan saja petani bantuan tunai langsung, yang uangnya bisa dibelikan pupuk sesuai mekanisme harga pasar. Yang penting bagi petani itu ngurus pupuk nggak ribet dan kebutuhan dalam mengelola tanaman pangan terpenuhi," kata Ketua KTNA Sragen, Suratno kepada Media Indonesia, Kamis (19/11)

Menurut dia, selama ini program pupuk subsidi masih terus memunculkan beberapa persoalan. Selain kelangkaan, di lapangan, petani sering kesulitan mendapatkan pupuk untuk tanaman pangan yang dikelola, yang diharapkan bisa memberikan asil akhir saat panen.

KTNA Sragen, lanjut dia, terus mencermati apa yang menjadi kesulitan petani dalam mengupayakan budidaya tanaman pangan, dan mencoba mencarikan solusi kepada Dinas Pertanian, agar petani sejahtera dan ketahanan pangan semakin terjaga.

"Angan-angan KTNA Sragen, lebih baik dana untuk pupuk subsidi tersebut, diganti dengan bantuan tunai langsung. Jadi uangnya dikasih saja ke petani, yang kemudian membelikan. Kami rasa ini lebih efektif, sebab petani tidak lagi mengharap pupuk subsidi," katanya.

Jadi, lanjut dia, sebagaimana program BLT dari Kemensos, maka Kementerian Pertanian cukup mentransfer dana subsidi pupuk kepada petani, sebagai penerima manfaat atau penyalur langsung. Dana yang diterima itu dipergunakan untuk membeli pupuk jenis apa saja, sesuai HET yang diatur pemerintah.

"Petani tidak lagi montang manting mencari tambahan pupik subsidi yang kurang ke daerah lain, dan ngopeni tanaman dengan ringan serta hasil maksimal," imbuh dia.

Pada musim tanam (MT) I yang dimulai Oktober lalu, ada sekitar 43 ribu hektar sawah di wilayah kabupaten Sragen, yang ditanami padi oleh peran. Jika pemupukan berjalan baik dan jauh dari hama, maka hasil maksimal yang akan dipanen pada awal tahun 2021, per hektar bisa menghasilkan gabah kisaran 7 - 8 ton.

"Sekali lagi kalau misal diberi pilihan, KTNA Sragen lebih memilih BLT ketimbang mengambil pupuk dengan kartu tani. Dengan uang bantuan, petani bisa memilih pupuk sesuai harapan," tegas Suratno. (OL-13).

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Kasur

 

Baca Juga

Antara

KAI Siap Operasikan Kereta Api Makassar-Parepare

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Senin 30 Januari 2023, 21:05 WIB
Saat ini, kereta api perintis lintas Makassar-Parepare sedang dalam tahap uji coba. Layanan tersebut merupakan bentuk pemerataan...
Medcom

Kasus Kekerasan Terhadap Balita Usia 2 Tahun Di NTT Viral

👤Palce Amalo 🕔Senin 30 Januari 2023, 20:49 WIB
AKSI kekerasan terhadap seorang balita kembali terjadi. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa...
Mi/Benny Bastiandy

Elemen Massa Gabungan Pertanyakan Penanganan Pascagempa Cianjur

👤Benny Bastiandy/Budi Kansil 🕔Senin 30 Januari 2023, 20:39 WIB
ELEMEN massa gabungan mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Cianjur Menggugat (AMCM) bertemu dengan Bupati Cianjur Herman Suherman di Ruang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya