Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
RATUSAN laki-laki muda berjajar. Jaraknya antara kanan dan kiri sekitar 1,5 meter. Di depannya tampak bahan-bahan untuk membuat sapu. Mereka menyatukan rumput gelagah atau gandum dan diberi batang kayu agar jadi sapu. Masing-masing pekerja terlihat sibuk di tempat usaha CV Rayung Pelangi di Desa Karanggambas, Kecamatan Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (5/11).
Salah seorang pekerja, Sartono, mengungkapkan, di perusahaan tersebut ada beberapa bagian pekerjaan misalnya merapikan rumput gelagah, kemudian menyatukan dengan batang kayu sampai pada pengemasan.
"Masing-masing telah memiliki tugas sesuai bidangnya. Dalam masa pandemi sekarang, pekerjaan justru banyak. Bahkan, terus menambah karyawan. Yang terus kami ingatkan adalah protokol kesehatan kepada para pekerja. Masker menjadi sangat penting dan jaga jarak. Jadi, kalau dalam bekerja, sudah ada jarak antarpekerja," kata Sartono.
Kondisi pandemi memang membutuhkan adaptasi, bahkan dalam dunia usaha. Apalagi, sebagian besar pelaku usaha terguncang akibat pandemi covid-19. Pemasaran produk turun tajam, sehingga sampai merumahkan dan melakukan PHK terhadap karyawan. Namun, tetap saja ada anomali, ada perusahaan yang tetap eksis bahkan malah berkibar pada masa yang dinilai sukar. Salah satunya adalah CV Rayung Pelangi yang begerak di bidang pembuatan sapu berbahan baku rumur gelagah.
Justru pada awal pandemi terjadi di Indonesia, pelaku usaha mulai melakukan ekspor perdana ke Korea Selatan, tepatnya pada Maret 2020. Awalnya satu kontainer atau berjumlah 30 ribu buah.
Pada Maret sampai Agustus, CV Rayung Pelangi mengekspor satu kontainer, kemudian mengalami peningkatan lagi sejak September dengan jumlah dua kontainer. Sedangkan ekspor lainnya sebanyak satu kontainer ke Pakistan. Mulai November ini, sudah ada permintaan dari India sebanyak dua kontainer.
Baca juga: Ekspor Kopi asal Temanggung tak Terhalang Pandemi
Pemilik usaha CV Rayung Pelangi Bambang Triyono mengatakan pada awal tahun, usaha yang dijalani hanya melibatkan 20 orang pekerja. Namun, justru ketika pandemi, pihaknya mencari karyawan baru. Kebetulan, pada masa pandemi ada pekerja yang dirumahkan atau proyek bangunan mandek sehingga bisa direkrut.
"Saya tidak pilih-pilih karyawan, bahkan penyandang disabilitas saya tampung juga. Yang penting mereka mau belajar, mengikuti training. Setelah bisa, langsung kerja. Pendapatannya tidak kalah dengan bekerja di proyek bangunan atau pabrik. Sampai sekarang, karyawan sudah ada 150 orang. Bahkan, ke depan ini saya akan mencari 150 karyawan lagi. Sehingga nantinya total sebanyak 300 pekerja," ungkap Bambang.
Penambahan karyawan dilakukan karena pesanan mengalami lonjakan signifikan. November ini, ia harus menyiapkan lima kontainer. Satu ke Pakistan dan masing-masing dua kontainer ke Korea Selatan dan India.
"Yang paling penting saya tekankan kepada pekerja adalah mempertahankan kualitas. Kami dipercaya dan dapat meningkatkan ekspor karena beberapa negara saingan mungkin ada kendala produksi. Selama ini, pesaing produk kami adalah Vietnam, Myanmar dan Tiongkok," ungkapnya.
Ia berterima kasih kepada pemerintah karena telah melakukan pendampingan melalui program pendampingan ekspor atau export coaching program (ECP).
"Dengan adanya program dari Kemendag tersebut, saya sangat terbantu terutama ketika melakukan ekspor. Pelaku usaha jadi lebih paham sehingga akan lebih bersemangat lagi dalam mengembangkan produk untuk ekspor," jelas dia.
Rohimah, yang juga pemilik CV Rayung Pelangi, menambahkan, untuk sapu yang diekspor ke Pakistan, pihaknya menggandeng mitra.
"Mitra kami tersebar di sejumlah tempat di Purbalingga dan kota lainnya. Produknya memang berbeda jika dibandingkan dengan yang dikirim ke Korea Selatan," imbuh Rohimah.
Bambang dan Rohimah membuktikan kondisi pandemi tidak lantas membuat hilang inovasi. Justru sebaliknya, ketika Covid-19 datang, permintaan mengalami lonjakan. Ketika kondisi pandemi mendera, usahanya malah lebih berjaya.(OL-5)
Bantuan ini merupakan simbol solidaritas dan penguatan ukhuwah antarwilayah dalam membantu saudara-saudara yang sedang menghadapi musibah.
“Alurnya tetap sama, hanya prosesnya disederhanakan. Bedanya, untuk dapur MBG tidak perlu diunggah ke sistem DPMPTSP,”
Aliansi Masyarakat Purbalingga Pemerhati Soedirman (AMPPS) melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, di Jakarta.
Kegiatan pelatihan di Kabupaten Purbalingga ini berfokus pada pengolahan serbuk gula kelapa, dengan materi yang mencakup pengolahan produk segar menjadi dry food.
Secara politis, mengusung Tempat Lahir Soedirman bagi Purbalingga adalah langkah strategis untuk merebut kembali narasi nasional.
Penyaluran beras dilakukan tidak hanya melalui pedagang pasar, tetapi juga melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang rutin digelar Pemkab Purbalingga bekerja sama dengan Bulog.
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Studi Nature Communications ungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak rata-rata 5,5 bulan, meski tanpa infeksi. Siapa yang paling terdampak?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved