Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI musim hujan diperkirakan baru menghampiri Indonesia pada awal Oktober mendatang, fenomena hidrometeorologi ini sudah muncul di sejumlah daerah.
Awal pekan ini, bencana hidrometeorologi terjadi di tiga daerah di Jawa Barat, yaitu banjir bandang di Kabupaten Sukabumi serta banjir di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Selain itu, terjadi angin kencang di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Banjir juga menggenangi 49 RT di DKI Jakarta.
“Fenomena hidrometeorologi yang berujung bencana mendominasi kejadian awal pekan ini, seperti banjir bandang, banjir, dan angin kencang,” kata Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam keterangan resminya, kemarin.
Ia menjelaskan banjir bandang di Kabupaten Sukabumi mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan satu lagi masih dalam pencarian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi masih terus memutakhirkan data dari lapangan.
“Dampak banjir bandang tersebut menyasar tiga kecamatan di Sukabumi, Jawa Barat, yaitu Kecamatan Cicurug, Parungkuda, dan Cidahu,” terang Raditya.
Adapun di Kabupaten Bogor, banjir terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Banjir disebabkan luapan dua sungai, Cianten dan Cisakati, yang berada di wilayah Kampung Muara 1. Lokasi terdampak di kabupaten itu berada di Desa Cibu nian, Kecamatan Pamijahan.
Masih di wilayah Jawa Barat, Kota Bogor juga mengalami banjir pada awal pekan ini pukul 18.30 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi memicu meluapnya debit air Sungai Cisada ne yang kemudian mengakibatkan genangan di Kota Bogor. Wilayah yang terpantau terjadi genangan ialah Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, dengan tinggi muka air sekitar 30 cm.
Di Jawa Tengah, sambung Raditya, angin kencang melanda Kabupaten Cilacap. Satu rumah roboh akibat angin kencang yang terjadi pukul 12.30 WIB itu.
Peristiwa itu terjadi di De sa Sudagaran, Kecamatan Sidareja, Cilacap. Kejadian serupa terjadi di Ko ta Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, pada Minggu (20/9) pukul 13.30 WIB.
Musim hujan
Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengatakan pihaknya memprediksikan wilayah Indonesia khususnya Jabodetabek akan mulai memasuki musim hujan di awal Oktober.
Ia juga menjelaskan bahwa musim hujan akan intens berada di wilayah selatan lebih dahulu, baru diikuti wilayah-wilayah lain di Jabodetabek.
“Untuk awal musim hujan dimulai lebih dahulu di wilayah Jabodetabek bagian selatan pada Oktober,” kata Hary, kemarin.
Di sisi lain, saat ini meskipun Jabodetabek sudah diguyur hujan dengan intensitas lebat, Hary menegaskan hal itu merupakan penanda awal akan memasuki musim hujan. “Saat ini untuk wilayah Jabodetabek (Jakarta) belum memasuki musim hujan,” terangnya.
Sementara itu, musim hujan diperkirakan intens pada November dan Desember. Lalu puncak musim hujan akan terjadi di Januari dan Februari. (Put/Iam/Wan/Ata/BB/X-10)
Pada awal 2026, Indonesia masih merasakan pengaruh fenomena La Nina.
Intensitas hujan tinggi yang terjadi di berbagai daerah harus diwaspadai bersama dan masyarakat tetap selalu meningkatkan kesiapsiagaan hingga kewaspadaan.
BPBD juga mengingatkan warga untuk mengantisipasi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengimbau warga di sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Utara mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi hingga 12 Agustus 2025.
Ravidho Ramadhan menempuh program Doktoral di Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM itu menjadi doktor termuda
BRIN melalui Pusat Riset Geoinformatika bersama PT. Urban Spasial Indonesia mengembangkan pemanfaatan teknologi Light Decection and Ranging (LiDAR) untuk pemetaan kebencanaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved