Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMUA wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diwaspadai berpotensi terdampak musim kemarau yang diprediksi bakal segera terjadi. Intensitas pemantauan di semua wilayah kecamatan pun mulai ditingkatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Mochammad Irfan Sofyan, mengatakan saat ini sebetulnya sedang memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Selama masa transisi tersebut, tentu harus diwaspadai dan diantisipasi sejak dini.
"Sekarang masih pada masa transisi. Tapi pemantauan ke semua kecamatan sudah kami lakukan sebagai upaya mewaspadai potensi kemarau," kata Irfan kepada mediaindonesia.com, Senin (27/7).
Dampak yang biasanya terjadi akibat kemarau di antaranya potensi krisis air bersih, kekeringan lahan pertanian, serta kebakaran hutan dan lahan. Potensi-potensi tersebut tersebar hampir di semua kecamatan.
"Saat masuk kemarau panjang, kami biasanya akan berkoordinasi dengan Perumdam untuk menyediakan air bersih bagi warga yang mengalami krisis akibat kekeringan," tuturnya.
Wilayah yang jadi langganan kekeringan di antaranya di hampir semua kecamatan di selatan, di wilayah timur Cianjur, termasuk di kawasan Cianjur utara. Irfan mengatakan BPBD Kabupaten Cianjur tak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan elemen taktis lain. Di Kabupaten Cianjur sekarang sudah terbentuk Relawan Tangguh Bencana (Retana).
Jumlah personel Retana mencapai 1.800 orang. Mereka tersebar di 360 desa dan kelurahan. Masing-masing desa dan kelurahan berkekuatan 5 personel Retana.
"Mereka sudah kami bekali dengan berbagai pengetahuan kebencanaan, termasuk cara mitigasi, penanganan, serta pelaporan. Dalam kata lain, mereka itu adalah petugas BPBD, namun sekupnya di tingkat desa dan kelurahan," beber Irfan.
Satu di antara wilayah yang rawan kekeringan di Kabupaten Cianjur yakni Kecamatan Cibeber. Aparatur pemerintahan kecamatan setempat pun meningkatkan koordinasi dan antisipasi menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya potensi kekeringan.
Camat Cibeber, Ali Akbar, mengaku upaya mengantisipasi kekeringan dilakukan dengan mempersiapkan berbagai potensi yang ada. Pasalnya, pengalaman sebelumnya, kemarau tidak hanya berdampak terhadap krisis air untuk konsumsi masyarakat saja, tapi juga terhadap lahan pertanian.
"Tentu, dari sekarang kita terus membahas potensi kerawanan kekeringan ini meskipun di tengah pandemi covid-19," kata Ali.
Ada berbagai upaya dan rencana yang dilakukan pihak kecamatan. Misalnya melakukan reboisasi daerah-daerah yang menjadi tangkapan atau resapan air. Seperti di Desa Girimulya yang notabene masih terdapat daerah perbukitan.
"Dengan berfungsinya kembali daerah resapan air, maka saat kemarau tidak akan terlalu kesulitan," jelasnya.
Pemerintah Kecamatan Cibeber juga membantu pembuatan sumur-sumur bor di beberapa desa yang anggarannya berasal dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat. Diharapkannya, keberadaan sumur bor akan bisa menyuplai air bersih untuk kebutuhan masyarakat.
"Kami juga berharap, kemarau tahun ini tak seperti tahun lalu yang cukup panjang," tandasnya. (OL-13)
Potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun. Dengan 80% air nasional digunakan sektor pertanian/irigasi.
Kondisi musim kemarau yang cenderung lebih kering itu juga dipengaruhi indikasi fenomena El Nino lemah yang berpotensi muncul pada pertengahan hingga akhir 2026.
Menurut dia, salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jabar adalah mendorong pengembangan komoditas pertanian yang lebih hemat air.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal pada April dan terasa lebih kering dibanding tahun lalu. Cek daftar wilayah terdampak di sini.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
BENCANA kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Gelombang pertama puncak arus mudik terjadi pada Sabtu (14/3) dan Minggu (15/3). Sedangkan gelombang kedua diperkirakan terjadi pada Rabu (18/3) dan Kamis (19/3).
Transfer dana THR dari pemerintah pusat sudah masuk ke rekening kas umum daerah (RKUD).
Satlantas Polres Cianjur petakan titik macet Mudik 2026 di Cipeuyeum, Ciranjang, hingga Puncak. Simak daftar jalur alternatif via Jonggol di sini.
Polres Cianjur mengerahkan berbagai kendaraan untuk memobilisasi personel selama operasi berlangsung.
Sensus Ekonomi ini merupakan instrumen data yang dilakukan rutin lima tahunan.
Pasalnya, UA nekat mengambil dua buah labu siam di lahan yang bukan miliknya karena terdesak kebutuhan untuk berbuka puasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved