Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Penggerak Ekonomi di DIY, 76% Dari Sektor UMKM

Ardi Teristi Hardi
26/7/2020 10:41
Penggerak Ekonomi di DIY, 76% Dari Sektor UMKM
Nasib UMKM di antara Ketakutan dan Optimisme Kebijakan di Yogyakarta, Sabtu (25/7/2020)(MI/Ardi Teristi Hardi )

DEPUTI Direktur Perwakilan Bank Indonesia DIY, Miyono menyatakan, sektor UMKM berperan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi di DIY. Kontribusi sektor UMKM terhadap ekonomi DIY adalah 79,6 persen dari Produk Domestik Regional Bruto PDRB DIY.

"Kunci pertumbuhan ekonomi di DIY adalah menggerakkan sektor riil, terutama UMKM yang jumlahnya sekitar 6000 di DIY. Kita dorong ekonomi UMKM segera pulih dengan tetap menerapkan protokol kesehatan," kata dia dalam Diskusi Kritis Media #4 di Coffee & Resto Tarumartani 1918, Sabtu (25/7).

Dalam diskusi bertajuk, Nasib UMKM di antara Ketakutan dan Optimisme Kebijakan, Miyono menilai langkah Pemda DIY sudah tepat dengan membuka sektor pariwisata secara terbatas. Pasalnya, banyak UMKM yang bergerak pada sektor ini, dari pakaian, makanan, suvenir, hingga biro perjalanan.

Miyono pun memandang optimistis ekonomi DIY pada triwulan ketiga. Pasalnya, DIY telah melewati titik nadir perekonomian yang terjadi pada Mei. Mulai Juni, perekonomian di DIY sudah beranjak naik walaupun kenaikannya berlangsung perlahan. Anjloknya perekonomian di DIY pada Mei bisa dilihat pada penjualan kendaraan bermotor sampai Mei minus hampir 62 persen YOY. Konsumsi listrik  juga tumbuh sangat minim, hanya 5,98 persen YOY, dan kredit konsumsi juga turun 24,8persen.

Dari paparan tersebut, potret perekonomian triwulan dua, daya beli di DIY merosot. Pasalnya, perekonomi di DIY hampir 68 persen ditopang dari konsumsi. Di sisi lain, konsumsi pemerintah serapannya juga masih rendah. Walau porsi konsumsi pemerintah di DIY dalam PDRB hanya sekitar 14 persen, kontribusinya sangat menentukan.

"Ketika konsumsi pemerintah tidak maksimal, swastanya tidak akan bergerak," kata dia.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana. meminta Pemda DIY juga memperhatikan sektor pendidikan. Pasalnya, selain pariwisata, pertumbuhan ekonomi di DIY juga banyak ditopang oleh sektor pendidikan. Banyak usaha yang bergantung pada sektor pendidikan, mulai dari jasa indekos, penjual makanan, hingga penyedia fotokopi.

"Di DIY ada 140-an kampus, kita harapkan akan dibuka bertahap dan dimulai dari beberapa universitas yang besar dulu. Kalau perlu Pemda memberikan insentif ke kampus untuk memastikan para mahasiswa itu masuk DIY dengan aman," tutur Huda.

Insentif yang diberikan, misalnya tes polymerase chain reaction (PCR) atau rapid diagnostic test (RDT) gratis untuk mahasiswa yang masuk DIY. Selain itu, disiapkan pula tempat karantina bagi mahasiswa sebelum masuk lingkungan indekos.

"Selain itu fasilitas medis dan tenaga kesehatan juga harus disiapkan, begitu pula implementasi protokol kesehatan ketat," pungkas Huda.

baca juga: Puluhan PTS di DIY Gelar Model Penerimaan Mahasiswa Baru Bersama

Sementara itu, Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia DIY, Susilo mengusulkan, pertemuan-pertemuan secara daring harus dikurangi dan diganti dengan pertemuan secara fisik teebatas. Pasalnya, pertemuan-pertemuan secara daring hanya menguntungkan operator seluler, tetapi tidak bagi usaha yang lain apalagi UMKM. Walau terkesan  sepele, rapat-rapat terbatas yang dilakukan secara langsung akan menumbuhkan sektor ekonomi di daerah. Perputaran uang akan lebih besar, dari mulai sewa ruangan hingga konsumsi.

"Kegiatan ekonomi harus kembali dilakukan secara terbatas dan bertahap. Siapa yang harus menggerakkan perekonomian kalau bukan kita sendiri," pungkas dia. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya