Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI belum masuk musim kemarau namun upaya penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan (Sumsel) tetap dilakukan namun strategi penanganan karhutla di tahun ini diubah.
Penanganan karhutla mengedepankan strategi pencegahan atau mitigasi, sehingga sebelum api menjadi besar dan meluas langsung dilakukan pemadaman.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Firman Wirayudha mengatakan, strategi penanganan karhutla ini diubah karena mengambil pengalaman karhutla di Sumsel yang telah terjadi di setiap tahun.
"Biasanya penanganan karhutla kan saat sudah ada api, kita menerbangkan helikopter untuk waterbombing. Namun sekarang kita ubah strateginya. Kini kita intensif melakukan patroli di udara, di lokasi yang kerap sangat rentan terjadi karhutla," kata Firman, Kamis (23/7).
Dan sejauh ini, dari hasil patroli sudah banyak menemukan adanya asap yang keluar dari lahan yang terbakar. Untuk itu, helikopter yang ada pun langsung melakukan pengeboman air diatas lahan yang terbakar itu.
"Setiap hari kita lakukan patroli, dan sejauh ini selalu ditemukan adanya api. Kita tidak mau ambil resiko, karena jika didiamkan api akan membesar. Sehingga kita langsung lakukan pemadaman dengan waterbombing," kata dia.
Dijelaskan Firman, selama 28 Mei hingga 22 Juni 2020 tercatat sudah dilakukan teknik modifikasi cuaca sebanyak 38 sorti dengan penyemaian garam sekitat 28 ton. Setelah 28 Juni, kata dia, tidak lagi dilakukan penyemaian garam karena pesawat yang digunakan untuk TMC sudah dikembalikan ke pusat.
Baca juga : Enam Desa di Cianjur Krisis Air
"Jadi untuk sekarang TMC tidak lagi dilakukan di Sumsel. Kita pun mengintensifkan patroli yang sampai sekarang sudah tercatat 100,6 jam terbang. Sehari kita lakukan 2 kali patroli," jelasnya.
Sampai saat ini, pengeboman air diatas lahan terbakar sudah dilakukan sebanyak 70 kali terbang dengan masing-masing bisa melakukan 40 kali pengeboman sebanyak 4.000-5.000 liter air.
"Sehari bisa ada tiga helikopter waterbombing yang beroperasi. Banyak yang bertanya kenapa kita lakukan waterbombing padahal masih hujan, sebenarnya ini adalah langkah efektif untuk pencegahan. Jangan sampai api sudah besar, baru kita bergerak. Sekarang ini upaya kami, ada api kecil kita langsung turun. Bahkan tanpa hotspot pun kita tetap lakukan patroli udara," jelas Firman.
Ia menuturkan, saat ini untuk armada pemadaman karhutla di Lanud Sri Mulyono Herlambang sudah ada 11 pesawat dan helikopter.
Kini, sudah ada dua helikopter lagi bantuan pusat yang diberikan untuk pemadaman karhutla di Sumsel. Sehingga secara total, armada di Sumsel ada 13 unit.
"Semua armada ini untuk penangangan karhutla untuk Sumsel. Dalam operasinya di lapangam, kita juga ikut memantau dan memadamkan karhutla di Perbatasan Sumsel-Jambi yang memang saat ini sudah ditemukan banyak kebakaran lahan, baik perkebunan maupun kawasan hutan," ujar Firman.
Sementara itu, Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I, Marsekal Muda TNI Tri Bowo Budi Santoso mengatakan, peranan TNI saat ini difokuskan juga untuk mencegah dan menangani karhutla. "Untuk itu, saya meminta agar TNI bisa memaksimalkan perannya untuk membantu penanganan dan pencegahan karhutla," tandasnya. (OL-2)
Tim gabungan Polda Kalbar, BPBD Kubu Raya, dan pemadam swasta memadamkan karhutla seluas empat hektare yang berlangsung lima hari di radius 1–2 kilometer dari Bandara Supadio.
Pemerintah kini mengedepankan perubahan paradigma pengendalian karhutla dengan fokus utama pada pencegahan sebagai langkah antisipatif.
Studi terbaru Cedars-Sinai mengungkap lonjakan drastis serangan jantung dan gangguan paru pasca-kebakaran hutan LA Januari 2025.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau akan mengakhiri masa status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 30 November 2025.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 2025 untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved