Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH beredar informasi yang menyebutkan alkohol sebagai antiseptik yang dapat mengatasi penularan virus korona (Covid-19). Hal itu seketika membuat alkohol menjadi barang paling dicari setelah instant hand sanitizer dan masker, saat ini yang masih sulit diperoleh.
Sejak awal Maret 2020, berbagai toko dan apotek yang tersebar di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengaku kehabisan stok masker dan hand sanitizer. Cairan pembunuh kuman tanpa dibilas itu, menjadi barang konsumtif paling dicari, setelah merebaknya wabah virus korona (Covid-19). Kini alkohol pun menyusul.
Alkohol 70 % yang digunakan sebagai cairan antiseptik mulai hilang sejak awal pekan. Beberapa apotek yang berada di Kota Palu mengaku kehabisan stok alkohol, karena mendadak menjadi barang serbuan warga.
Baca Juga: Alkohol 70% Langka di Apotek Tasikmalaya
Dari pantauan Media Indonesia, bahkan terdapat beberapa apotek yang membatasi penjualan alkohol. Satu orang hanya bisa membeli satu botol alkohol, dengan alasan memberikan rasa keadilan. Meskipun harganya terbilang lebih mahal dari hari harga biasanya, alkohol dengan kadar 70% sebagai cairan antiseptik dan disinfektan sangat laku keras.
Salah seorang karyawati yang bertugas di apotek yang berada di jalan Guru Tua, Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi, bahkan dengan tegas menyampaikan bahwa satu pembeli hanya bisa membeli satu botol alkohol.
''Masih ada stok, tapi setiap orang hanya bisa membeli satu botol. Saya tidak diperbolehkan menjual lebih dari satu botol kepada satu orang,'' ujar Nina, karyawan apotek Kasih Farma, Sabtu (21/3).
Baca Juga: Setelah Masker dan Hand Sanitizer, Alkohol 70% Langka di Sulteng
Menurut Nina, pemilik apotek tersebut sudah berpesan dan mewanti-wanti untuk tidak menjual ketersediaan alkohol lebih dari satu botol kepada satu pembeli. (MT/OL-10)
Para ilmuan baru-baru ini telah menemukan virus corona baru pada kelelawar di Brasil yang memiliki kemiripan dengan virus MERS yang dikenal mematikan.
Hal itu meningkatkan kemungkinan bahwa virus tersebut suatu hari nanti dapat menyebar ke manusia, demikian yang dilaporkan para peneliti Tiongkok.
Pemberian berbagai bansos diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Saya beserta jajaran anggota DPRD DKI Jakarta turut berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulang ke Rahmatullah sahabat, rekan kerja kami Hj. Umi Kulsum."
Para peneliti melengkapi setiap relawan dengan pelacak kontak untuk merekam rute mereka di arena dan melacak jalur aerosol, partikel kecil yang dapat membawa virus.
Mensos Juliari berharap bantuan ini berdampak signifikan terhadap perputaran perekonomian lokal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved