Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 30 warga Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengikuti upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda, kemarin.
Berbeda dengan peserta upacara lainnya yang mengenakan pakaian formal, mereka mengenakan pakaian sehari-hari, antara lain ada yang mengenakan sarung, celana jins, dan beralas kaki sandal jepit.
Walau tampil seadanya, warga tidak kehilangan semangat untuk menghormati para pahlawan. Upacara yang berlangsung di bukit gersang dan panas itu berjalan khidmat kendati tanpa kesan formal.
Meski bukit tersebut tandus, di puncaknya terdapat kolam renang buatan. Di kawasan itu juga terdapat listrik yang mengalir dari panel pembangkit bertenaga surya dan angin.
Tenaga listrik, selain untuk menghidupkan pompa air, juga untuk penerangan. Energi baru terbarukan itu melengkapi spirit warga yang tengah berupaya menghijaukan bukit.
Sejumlah warga desa mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan hormat kepada bendera merah putih yang dikibarkan dalam upacara. Apalagi menyanyikan lagu Indonesia Raya. Teks Sumpah Pemuda pun mereka tidak hafal karena memang sama sekali belum pernah membacanya.
Karena itu, kemarin merupakan hari yang sangat berbeda, bahkan bisa dibilang istimewa dengan nasionalisme terlihat sangat kuat. Mereka mengikuti upacara membaur bersama siswa dan guru SDN 1 Curah Cottok. Semuanya berjalan tertib sampai usai.
Menurut Kepala Desa Curah Cottok, Muhammad Samsuri Abbas, sejak Sabtu (26/10), para perangkat desa memberi tahu kepada warga agar mengikuti upacara. Warga diminta berpakaian bebas dan rapi. Namun, tanggapan warga ternyata berbeda. “Ada yang bilang akan datang meskipun tidak memiliki sepatu. Kami mempersilakan warga ikut dengan pakaian seadanya,” ujar Samsuri .
“Kita ingin mengedukasi dan menyatukan warga. Meski berbeda-beda suku dan agama, sejatinya kita bersatu dalam NKRI,” imbuhnya.
Sayadih, warga peserta upacara, mengaku baru kali ini mengikuti upacara selama hidupnya. Ia mengenakan sarung dan sandal jepit karena tidak memiliki sepatu.
“Meski saya memakai baju dan sandal seadanya, tidak mengurangi rasa hormat kami kepada para pahlawan. Kita semua harus menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya. (Bagus Suryo/X-10)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved