Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda ke-91 di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, dipenuhi warna-warni membawa pesan kebhinekaan. Setiap kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga jajarannya memakai beragam pakaian tradisional setiap suku yang ada di Indonesia.
"Ini pertama kali kadis (kepala dinas) ikut dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda. Biasanya pelajar saja. Dan langsung dengan konsep pakaian adat di Indonesia. Dengan itu, kita sebagai orang minang merasakan Indonesia kaya akan adatnya," terang Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Dharmasraya Rudi Aldrin, yang berpakaian adat Nusa Tenggara Timur (NTT), bersama istrinya, Senin (28/10).
Menurutnya, memperingati hari Sumpah Pemuda otomatis memamahi bahwa Indonesia ini negara yang berdiri karena kemajemukan.
"Ini (pakaian adat NTT) kita beli sendiri. Sekitar sejutaan. Orang Minang jadi merasakan pakaian NTT," tukasnya.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 tahun 2019 di Dharmasraya digelar di halaman Kantor Bupati Dharmasraya. Adapun inspektur upacara dipimpin langsung Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Upacara ini berlangsung khidmat dan berjalan lancar. Para peserta dan tamu undangan tampak begitu antusias dengan balutan pakaian adat se-nusantara. Hadir dalam kesempatan itu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan jajarannya.
Moeldoko menyampaikan, penghargaan setinggi tingginya kepada tokoh pemuda Tahun 1928 yang telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda, sehingga menjadi pelopor Pemuda untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia sekaligus menjaga keutuhan NKRI. Dikatakannya, Hari Sumpah Pemuda ke-91 kali ini mengambil tema Bersatu Kita Maju. Tema ini diambil untuk menegaskan kembali komitmen yang teiah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Bahwa hanya dengan persatuan kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa.
baca juga: NasDem Target Menang Besar di Pilkada Sulteng
Menurut Moeldoko, pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat dua mata pisau.
"Satu sisi ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam pengembangan sumber daya serta daya saing. Namun pada sisi yang lain perkembangan ini mempunyai dampak negatif, informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari parnografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dari terorisme juga masuk dengan mudahnya. Apabila pemuda tidak dapat membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara," terangnya. (OL-3)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved