Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada saat ini sedang dilanda fenomena Equinox sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan suhu udara antara 32 hingga 34 derajat Celcius.
Equinox merupakan salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada 21 Maret dan 23 September.
"Menjelang, pada saat dan pasca-Equinox, terjadi peningkatan suhu udara yang ditandai teriknya penyinaran matahari akibat intensitas matahari yang diterima permukaan bumi mencapai maksimum," jelasnya di Yogyakarta, Minggu (13/10).
Pada Jumat, 11 Oktober 2019, tercatat suhu udara maksimum di Staklim Mlati Yogyakarta mencapai 34,8 derajat Celcius. Pada umumnya, suhu maksimum di Yogyakarta berkisar antara 30 hingga 32 derajat Celcius.
Baca juga: Warga Nikmati Full Hunter's Moon di Langit Kota Mbay, Flores
Matahari berada di lintang 0 derajat pada 23 September, di lintang 7 derajat (di atas Yogyakarta) 13 Oktober, dan sampai pada lintang 23,5 derajat (garis balik selatan) pada 23 Desember.
Terkait cuaca, belakangan muncul awan mendung, terutama di Sleman dan Kulon Progo, menjadi tanda dari pancaroba. Awal musim hujan di DIY umumnya berlangsung pada November 2019 kecuali wilayah Sleman bagian Barat dan Kulon Progo bagian Utara pada Oktober 2019 dasarian lll (sepuluh hari terakhir April).
Awal musim hujan diprakirakan lebih lambat 1 2 dasarian (10 sampai dengan 20 hari).
Puncak musim hujan 2019/2020 wilayah D.I. Yogyakarta Januari Februari 2020. (OL-1)
Cuaca ekstrem meningkatkan kadar TNF-alpha serta mengubah jumlah sel darah putih, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
“Adanya perubahan lahan, bangunan-bangunan semakin banyak sehingga menyebabkan panas yang lebih ekstrem,”
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.
BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat meningkat di sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, 21–27 Oktober 2025 meski cuaca panas masih terjadi
Sinar matahari yang panas dan terik juga akan merangsang syaraf dalam kepala, dan meningkatkan rasa sakit kepala pada penderitanya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved