Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEDIKITNYA tiga rumah di Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tergenang air akibat meluapnya Sungai Cibuni. Fenomena itu dikenal sebagai banjir bugeul akibat tertutupnya aliran sungai oleh gundukan pasir laut.
"Kejadianya Selasa (8/10). Lokasinya di Desa Wangunjaya dan Desa Sinarlaut yang berbatasan langsung dengan Tegalbuleud di Kabupaten Sukabumi. Ada tiga rumah yang terendam," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno, kepada Media Indonesia, Kamis (10/10).
Bugeul merupakan sebuah fenomena alam yang biasa terjadi di kawasan pesisir pantai. Fenomena itu terjadi karena gelombang pasang yang membawa pasir ke bibir pantai hingga menutup aliran sungai.
"Pasir lautnya menutup Sungai Cibuni. Karena tertutup pasir laut, air di aliran Sungai Cibuni meluap ke permukiman warga terdekat. Kami langsung menurunkan personel ke lokasi. Dibantu unsur Muspika dan elemen warga, kami menyingkirkan gundukan pasir sehingga membuka kembali aliran sungai yang bermuara ke laut," sebut Sugeng.
Sugeng menuturkan seandainya saat itu tak cepat diatasi, bisa jadi banjir bugeul itu menggenani sekitar 50-60 unit rumah atau sekitar 240 jiwa di dua desa. Sugeng masih menyiagakan personel di lokasi untuk mengantisipasi fenomena bugeul susulan.
"Fenomena bugeul ini tak bisa diprediksi. Bisa terjadi kapan saja," ungkapnya.
Banjir bugeul tak hanya terjadi di wilayah pesisir pantai selatan Cianjur saja. Wilayah yang paling terdampak fenomena tersebut yakni Kecamatan Tegalbuleud.
"Di Tegalbuleud tak hanya rumah yang tergenang, tapi juga lahan persawahan. Wilayah itu paling terdampak banjir bugeul," sebut dia.
Pesisir pantai selatan Cianjur membentang sepanjang hampir 77 kilometer. Bentangan kawasan pantai itu berada di Kecamatan Tegalbuleud, Kecamatan Sindangbarang, dan Kecamatan Cidaun.
baca juga: Tim Akselerasi Pembangunan Bentukan Emil Intervensi Pemerintahan
Bersamaan prediksi memasukinya musim hujan, Sugeng mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana. Utamanya potensi pergerakan tanah dan longsor karena kondisi kontur tanah labil akibat dilanda kemarau panjang.
"Tapi kami belum mencabut status siaga darurat kekeringan. Belum ada informasi dari BMKG menyangkut kondisi cuaca sekarang," pungkasnya. (OL-3)
Tasriah 75 tahun, penderita sakit stroke di kampung Dukuh Desa Mulyasari, Pamanukan Subang, harus seger dievakuasi karena ketinggian banjir makin naik.
Umur tanaman padi yang terendam air berkisar 10 hingga 25 hari
Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi Hermanto mengimbau masyarakat agar memanfaatkan layanan darurat kepolisian apabila membutuhkan bantuan.
Ia menegaskan kondisi tersebut menuntut penguatan kesiapsiagaan dari berbagai sektor, terutama dalam menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi pada akhir Januari 2026 memaksa 15.335 jiwa warga mengungsi ke sejumlah lokasi aman.
Dampaknya sangat dirasakan oleh para petani dan pedagang kecil yang kini kehilangan mata pencaharian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved