Rabu 25 September 2019, 18:45 WIB

Mahasiswi Suspect Difteri Meninggal, Sumut belum Tetapkan KLB

Yoseph Pencawan | Nusantara
Mahasiswi Suspect Difteri Meninggal, Sumut belum Tetapkan KLB

ANTARA
Perawat memeriksa kondisi pasien penderita suspect penyakit difteri di ruang isolasi

 

DINAS Kesehatan Provinsi Sumatra Utara menegaskan pihaknya belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di daerahnya meski sudah melakukan beberapa tindakan khusus terkait meninggalnya seorang mahasiswi yang menjadi suspect penyakit itu pada akhir pekan lalu.

Alwi Mujahit Hasibuan, Kepala Dinkes Sumut, mengatakan, walaupun pihaknya berkemungkinan menetapkan status KLB difteri, sejauh ini penetapan status tersebut secara resmi belum diterbitkan.

"Kita secara resmi belum KLB, yang sudah itu secara program, kita lakukan seperti KLB," ujarnya di Medan, Rabu (25/9).

Dia menjelaskan, penetapan status KLB diterbitkan melalui pernyataan secara tertulis, begitu juga dengan pencabutannya. Dinkes belum bisa menetapkan status itu karena masih ada persyaratan yang belum terpenuhi, yakni hasil uji laboratorium.

Untuk penetapan status tersebut, Dinkes Sumut masih menunggu hasil uji laboratorium Kementerian Kesehatan atas pengujian sampel swap dari tubuh Nurul Arifah.

Nurul merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara asal Malaysia yang meninggal dunia di Medan pada akhir pekan lalu setelah sebelumnya menjadi pasien diduga difteri.

Sampel swap dari tubuh Nurul sudah dikirim ke lab Kemenkes akhir pekan lalu sebelum mahasiswi semester lima itu meninggal dunia. Adapun proses uji lab memakan waktu selama satu minggu dan penetapan status KLB akan ditentukan dari hasil lab tersebut.


Baca juga: Perangi Berita Hoaks di Papua, Pemda Kota Sorong Gandeng Pers


"Untuk menyatakan status KLB itu harus ada konfirmasi dari hasil laboratorium, itu persyaratannya," ujar Alwi.

Bila hasil lab menyatakan bahwa sampel tersebut memang mengandung difteri, Dinkes Sumut akan menetapkan status KLB. Meski demikian, lanjutnya, Dinkes memang sudah melakukan beberapa tindakan khusus layaknya prosedur yang harus dilakukan dalam status KLB.

Ini yang dimaksud Alwi di atas sebagai program yang sudah dilakukan seperti berstatus KLB. Antara lain penyelidikan epidemiologi (PE) dan Outbreak Response Immunization (ORI), terhadap orang-orang yang diduga pernah kontak langsung penderita dalam 10 hari ke belakang.

"Kami sudah melakukannya kepada 290 orang yang diduga pernah kontak langsung dengan si pasien (Nurul Arifah). Mereka diberikan imunisasi dan obat selama satu minggu penuh," jelas Alwi.

Itu dilakukan karena masa inkubasi bakteri difteri tergolong sangat cepat, hanya 3-4 hari. Sehingga jika harus menunggu hasil uji lab, Dinkes khawatir tidak cukup waktu untuk penanganan.

Bila nanti status KLB resmi ditetapkan, kekhususan lainnya yakni penyediaan anggaran penanganan. Yakni untuk membiayai peningkatan pengadaan vaksin, obat-obatan dan tindakan-tindakan kewaspadaan lainnya. (OL-1)

Baca Juga

MI/Jamaah

Perajin Piala di Kudus Banjir Order di HUT RI ke 77

👤Jamaah 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 08:29 WIB
KAMPUNG perajin piala yang berlokasi di Dusun Ledok, Desa Demangan, Kota, Kudus, Jawa Tengah, kebanjiran order menjelang peranyaan HUT...
Dok. AAJI

AAJI Gelar Seminar Motivasi dan Beri Penghargaan Agen Asuransi Berprestasi

👤Ruta Suryana 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 07:46 WIB
“Melalui ajang TAA AAJI ke-35 ini juga diharapkan dapat mengembalikan dan meningkatkan gaung asuransi jiwa kepada masyarakat...
Dok.DRPD Klungkung

Demi Pusat Kebudayaan Bali, DPRD Klungkung Dukung Rencana Hibah Aset

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 12 Agustus 2022, 07:10 WIB
Dukungan DPRD Kabupaten Klungkung yakni dengan turut mengawal berjalannya proses penerimaan hibah yang nantinya juga akan menyejahterakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya