Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Palembang Mulai Diselimuti Asap

Dwi Apriani
04/9/2019 19:00
Palembang Mulai Diselimuti Asap
kabut asap palembang(MI/Dwi Apriani)

KOTA Palembang mulai diselimuti kabut asap, Rabu (4/9). Bukan hanya membuat jarak pandang terbatas, aroma kabut asap pun menjadikan udara yang dihirup membuat sesak masyarakat. Kepala Bidang Penanganan dan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori mengatakan sesuai arah angin asap kebakaran yang terjadi di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir (OI) mengarah ke Palembang.

"Sesuai arah angin memang mengarah ke Palembang, kabut udara pagi bercampur asap," kata dia.

Berdasarkan pantauan satelit Lapan pada Rabu (4/9) terdapat sedikitnya ada tujuh titik panas. Untuk itu, pihaknya langsung menerjunkan lima helikopter waterboombing untuk memadamkan karhutla di Sumsel.

Adapun tujuh titik panas hasil pemantauan yakni, Betung (Banyuasin), Sungai Lilin (Muba), Bayung Lincir (Muba), Timur Laut Bayung Lincir (Muba), Pulau Rimau (Banyuasin), kemudian Suah Tapeh (Banyuasin) dan Tanjung Lubuk (OKI).

"Jumlah ini bisa bertambah karena itu di-update pagi tadi sementara sampai sekarang tim masih patroli dan di-update besok pagi. Kemungkinan bisa bertambah," jelasnya.

Bupati OKI, Iskandar mengatakan, arah angin bisa selalu berubah dan belum tentu asap yang terpantau berasal dari OKI sepenuhnya.

"Coba cek ke Muba, karena arah angin selalu berubah malam dan siang dari Timur ke barat atau sebaliknya dan tidak sepenuhnya dari OKI, Kalau ada titik hotspot tidak pungkir bahwa memang ada tapi belum tentu titik api. Titik api memang ada namun sudah kita upayakan untuk ditekan semaksimal mungkin," kata dia.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab peristiwa
karhutla terus berulang diwilayah OKI. Kebiasaan masyarakat bisa ditekan, namun yang tidak bisa dihindarkan adalah proses alam, suatu pembakaran alamiah.

"Ada gambut yang mengeras mengandung unsur karbon yaitu Batubara, apabila proses oksidasi sinar matahari dan panas maka kebakaran bisa terjadi," jelasnya.

Ia menjelaskan seluruh aspek, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, Manggala Agni, TNI, Polri sudah bahu membahu untuk mengatasi karhutla, tapi proses alami kebakaran tidak bisa dihindari.

"Untuk pembukaan lahan di OKI sudha tidak ada lagi dengan cara membakar. Karena mereka baik masyarakat atau perusahaan sudah sadar sanksi berat pencabutan izin perusahaan," kata dia.

Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan tegas tentang hotspot atau firespot yang besar, sehingga kemungkinan ini karena kabut radiasi seperti yang diistilahkan oleh BMKG. "Mungkin juga ada tetangga atau asap lain yang masuk ," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun
Meteorologi Bandara SMB II Palembang, Bambang Beny Setiadji mengatakan,
angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari tenggara dengan kecepatan 5-15 Knot atau 9-28 Km/Jam mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutbunla ke wilayah Kota Palembang.

"Sumber dari LAPAN Tanggal 4 September 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni Pampangan, Tulung Selapan, Cengal, Mesuji dan Pematang Panggang," kata dia.

Kemudian, lanjutnya, untuk jarak pandang terendah pagi tanggal 4 September 2019 yang tercatat di Bandara SMB II Palembang 1,2-1,5 Km dengan Kelembapan 90-96 persen dengan keadaan cuaca Smoke (Asap).

"Intensitas asap tebal umumnya terjadi pada dini hari menjelang pagi hari mulai pukul 04.00-07.00 WIB. Ini dikarenakan labilitas udara yang stabil pada saat tersebut," kata dia.

Ia menjelaskan setelah terbit matahari keadaan udara akan relatif labil
sehingga partikel kering (asap) akan terangkat naik dan jarak pandang akan menjadi lebih baik. Kondisi akan terus berlangsung dikarenakan berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG tidak ada potensi hujan hingga tanggal 10 September 2019 di wilayah Sumatera Selatan.

Konsentrasi PM 10 yang tercatat di Stasiun Klimatologi Palembang 4
Septembar 2019 (00.00-07.00 WIB) tercatat dalam kategori Sedang dengan
nilai 78-123 µgram/m3 sedangkan Nilai Ambang Batas tidak sehat adalah pada 150 µgram/m3.

"Kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam bertransportasi pada pukul 04.00-07.00 WIB seiring potensi menurunnya jarak pandang dan
senantiasa menggunakan masker dan minum banyak air saat beraktifitas di
luar rumah untuk menjaga kesehatan," tandasnya. (DW/OL-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya