Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBAKARAN hutan dan permukiman di wilayah Kabupaten Wonogiri terus mengancam di puncak musim kering tahun ini. Sedikitnya sejak pertengahan Juli hingga akhir Agustus kemarin, sudah terjadi 11 kasus kebakaran hutan di Wonogiri.
"Sudah puluhan hektar tanaman jati, mahoni di hutan rakyat dan Perhutani terbakar. Kerugian sekitar Rp800 juta. Jika diakumulasi dengan kebakaran di tengah permukiman yang mencapai 26 kasus, kerugian mencapai lebih dari Rp1,6 miliar," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto kepada Media Indonesia, di Wonogiri, Senin (2/9).
Menurut dia, kalangan petani hutan rakyat harus mewaspadai munculnya titik api. Sebab dari 11 kasus hutan yang hangus sejak Juli, lebih banyak hutan rakyat yang terbakar, ketimbang hutan milik Perhutani.
"Dan kami peringatkan, teman-teman petani hutan rakyat atau warga yang tinggal di dekat kawasan hutan. Jangan sampai sengaja membakar, karena proses hukum pasti menanti," kata Bambang Haryanto.
Begitu halnya kepada masyarakat luas, juga dihimbau untuk hati-hati saat membakar sampah di permukiman. Sebab banyak kasus kebakaran di wilayah permukiman karena kecerobohan.
"Ada juga yang berasal dari api kompor atau korsleting listrik. Pada musim kering dengan angin yang cukup kencang, api cepat merembet dan meluas. Jadi semua harus hati-hati," imbuh dia.
baca juga: 120 Caleg DPRD Provinsi Jabar Resmi Dilantik
Saat ini, lanjut dia, relawan BPBD Wonogiri tidak kenal lelah patroli untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api, sehingga cepat bisa dipadamkan. Kasus terakhir hutan terbakar terjadi di dua dukuh yang ada di Desa Jendi, kecamatan Selogiri.
"Sudah berhasil kita padamkan bersama unsur relawan, TNI-Polri dan masyarakat," pungkas dia terkait kebakaran di dua lahan hutan rakyat pada 31 Agustus lalu di Jendi. (OL-3)
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto ingatkan daerah siaga dini hadapi fenomena bencana tak merata, mulai dari banjir hingga karhutla jelang puncak kemarau 2026.
Karhutla terjadi akibat adanya oknum masyarakat yang sembarang melempar puntung rokok ke lahan kering yang mudah terbakar ataupun yang membuka lahan dengan cara membakar.
Keunggulan dari penggunaan sensor VIIRS dan MODIS adalah kemampuannya dalam memantau wilayah yang sulit dijangkau secara langsung.
Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Pekanbaru dituding menjadi pemicu utama meningkatnya kerawanan kebakaran di area lahan gambut dan semak belukar.
BMKG deteksi 113 titik panas di Riau per 18 Maret 2026. Bengkalis dan Dumai mendominasi. Simak update pemadaman karhutla oleh tim gabungan BPBD di sini.
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved