Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten Tapin di Kalimantan Selatan bersama PT Antang Gunung Meratus sejak 2014 lalu terus merestorasi hutan rawa gelam di Desa Lawahan yang dikembangkan menjadi kawasan ekowisata bekantan.
Pemkab Tapin menargetkan kawasan hutan konservasi seluas 90 hektare tersebut akan menjadi destinasi wisata andalan.
Hal ini diutarakan Bupati Tapin, Arifin Arfan, di sela-sela kegiatan penanaman ratusan pohon dalam rangka peringatan Hari Bumi 2019 yang digelar di kawasan ekowisata bekantan Kabupaten Tapin, Sabtu (27/4).
"Kawasan ini dulunya rawan terbakar. Pemkab Tapin bersama PT AGM mencoba merestorasi kawasan ini guna menyelamatkan keanekaragaman hayati terutama bekantan," ungkapnya.
Dikatakan Bupati, pihaknya menargetkan kawasan ekowisata bekantan ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata andalan baik di Kabupaten Tapin maupun Kalsel. Peringatan Hari Bumi 2019 bertema 'Tapin Rawat Bumi' ini juga ditandai dengan peluncuran buku tentang buah lokal khas Kalimantan yang ditulis oleh Hanif Wicaksono seorang pegiat lingkungan.
Saat ini kawasan ekowisata bekantan yang dibangun Pemkab Tapin bersama PT AGM cukup berhasil. Kawasan hutan rawa bekas kebakaran hebat pada 2015 lalu sebagian sudah pulih. Tercatat sepanjang 2016 telah ditanam sekitar 10.000 pohon dalam rangka pembangunan ekowisata bekantan ini.
Demikian juga keanekaragaman hayati di dalamnya berangsur kembali termasuk populasi kera hidung panjang Bekantan (Nasalis Larvatus).
Baca juga: 13 Ribu Warga Bengkulu Terdampak Bencana Banjir
Chief Eksternal Affair PT Antang Gunung Meratus, Benito, mengatakan, pembangunan kawasan ekowisata bekantan ini merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap upaya pemulihan kerusakan lingkungan.
"Kawasan ekowisata bekantan ini mulai dibangun bersama Pemkab Tapin sejak 2014 lalu. Saat ini keanekaragaman hayati di kawasan ini tumbuh dengan baik, termasuk populasi bekantan yang terus bertambah," ungkapnya.
Kegiatan ini juga diikuti berbagai organisasi dan komunitas lingkungan yang ada di Kabupaten Tapin, serta Pena Hijau Indonesia.
Perwakilan Pena Hijau, Salman, usai melakukan penanaman pohon jenis Pulantan mengaku gembira melihat perkembangan kawasan ekowisata bekantan ini.
"Upaya restorasi kawasan hutan rawa ini cukup berhasil. Kita ikut terlibat dalam upaya pemulihannya pascakebakaran hebat 2015 dan melihat kondisi saat ini kita cukup gembira," ujarnya.
Pohon-pohon yang ditanam sebagai koleksi kawasan ekowisata selain pohon penghijauan, antara lain pohon sumber makanan primata bekantan seperti pulantan, rambai dan lainnya. Ada pula pohon hias jenis dadap merah, tebubuya, dan bintaro. Berdasarkan laporan penelitian tim ahli primata IPB diketahui jumlah bekantan yang menghuni kawasan rawa gelam Sungai Muning sebanyak 350 ekor dan terus bertambah.
Luas hutan konservasi yang dijadikan kawasan ekowisata bekantan ini mencapai 90 ha. Pena Hijau Indonesia memberikan apresiasi atas pembangunan kawasan ekowisata bekantan ini sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap pelestarian lingkungan. (OL-1)
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
sudah ada inovasi dalam mengatasi masalah sampah dalam skala rumah tangga hingga satu desa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved