Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
OPERASI hujan buatan yang dilaksanakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) didukung pesawat cassa 212 TNI AU berhasil mengkandaskan jumlah titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau.
Berkat teknologi modifikasi cuaca (TMC) BPPT, dari jumlah 293 titik api Karhutla, saat ini hanya tersisa dua titik api Karhutla di Riau yaitu di Kabupaten Pelalawan dan Kepulauan Meranti.
"BPPT berkoordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan didukung TNI AU, sejak akhir Februari kemarin terus melakukan penerbangan untuk menyemai awan guna membuat hujan buatan di atas langit Riau," kata Kepala BPPT Hammam Riza didampingi Kepala BNPB Doni Monardo dan Gubernur Riau Syamsuar usai secara resmi membuka pelaksanaan TMC operasi hujan buatan untuk penanganan Siaga Darurat Bencana Asap akibat Karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, Senin (4/3).
Hammam mengatakan, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca atau dikenal hujan buatan merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk mencegah timbulnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Sejauh ini sudah sebanyak 5 ton garam yang disemai di langit Riau guna membuat hujan buatan. Adapun persediaan garam yang disiapkan untuk operasi Maret 2018 sebanyak 17 ton.
Menurut Hammam, berdasarkan pantauan satelit (Terra/Aqua dan snpp), sejak 1 Januari hingga 27 Februari 2019 total hotspot dengan tingkat kepercayaan di atas 80% di Wilayah Riau jumlahnya mencapai sebanyak 293 titik.
Dengan operasi hujan buatan, titik api mampu dipadamkan hingga banyak tersisa dua titik api di Riau saat ini yaitu di Pelalawan dan Meranti.
"Dengan memperhatikan kondisi hotspot tersebut, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca ini adalah salah satu langkah paling efektif dalam rangka siaga darurat kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.
Baca juga: Kebakaran Hutan di Riau akibat Ulah Manusia
Kepala BPPT pun menegaskan bahwa penggunaan teknologi hujan buatan harus dioptimalkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas.
"Jadi ya hujan buatan ini juga dilakukan untuk mengoptimalkan potensi awan menjadi hujan untuk pembasahan lahan-lahan gambut dan pengisian embung-embung penampungan air untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas dan tidak terkendali," terangnya.
Lebih lanjut, Kepala BPPT mengatakan operasi TMC juga sebenarnya dapat dilakukan lebih massif. Khususnya untuk dilaksanakan di beberapa wilayah Indonesia yang berpotensi besar terjadi Karhutla.
Strategi pelaksanaan hujan buatan ini diusulkan Kepala BPPT, dapat juga difokuskan untuk membasahi (re-wetting) lahan gambut yang dinilai mempunyai tingkat kekeringan yang sudah perlu diwaspadai.
"Jadi ya kita tahu, mencegah lebih baik ya. Jika hujan buatan ini dilakukan di lahan gambut, kelembaban tanah pada area lahan gambut akan tetap terjaga, sehingga potensi terjadinya kebakaran di area lahan gambut juga semakin berkurang," paparnya.
Seiring usulan tersebut, Hammam mengatakan memang armada pesawat penyemai garam untuk hujan buatan jumlahnya sangat terbatas. Dengan demikian, jika ada Karhutla di Sumatra dan Kalimantan, pihaknya sangat kesulitan untuk melakukan hujan buatan ini secara serentak.
"Semoga dengan dukungan BNPB yang semakin erat ini, kami dapat dibantu untuk pengadaan armada pesawat hujan buatan," pungkasnya.
Sementara pada kesempatan yang sama Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan berharap dengan adanya upaya modifikasi cuaca, kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau bisa segera diatasi.
"Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak BPPT dan TNI Angkatan Udara melakukan modifikasi cuaca. Kami harap dukungan teknologi modifikasi cuaca ini mampu mengatasai kabut asap akibat Karhutla ini," ungkapnya.
Menurut Doni, kerugian ekonomi akibat kabut asap Karhutla pada 2015 lalu mencapai US$16,1 miliar atau dua kali lipat dari bencana tsunami di Aceh yang kerugiannya sebesar US$7,2 miliar.
Belum lagi kerugian kesehatan yang mengakibatkan masyarakat terpaksa lari mengungsi keluar dari Riau.
"Padahal 99% penyebab Karhutla itu akibat faktor manusia. Bisa sengaja dibayar atau tidak disengaja. Kemudian faktor alam. Seperti prediksi saat ini El Nino lemah tapi cukup panjang. Prediksinya ini akan jadi El Nino terpanjang selama 30 tahun terakhir," jelas Doni.
Karena itu, lanjutnya, pihaknya mengedepankan langkah pencegahan dan
mitigasi bencena. Pencegahan harus melibatkan seluruh komponen masyarakat seperti para ulama, pemimpin daerah, dan perusahaan.
"Untuk perusahaan (konsesi) kalau melanggar dari Undang-undang berlaku
pasti kita tindak. Perusahaan harus bertanggung jawab (membantu memadamkan) sejauh radius 2 Km dari konsesinya," tegas Doni. (OL-3)
DM ditangkap saat tengah mengolah kayu menggunakan mesin chainsaw di Resort Air Sawan, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, pada 21 Januari 2026.
Di lokasi, tim mengupayakan penanganan dengan mengedepankan prinsip keselamatan manusia sekaligus perlindungan satwa harimau sumatera yang dilindungi.
POLISI mengamankan sembilan orang terkait jual beli dan perusakan fasilitas satgas di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Rabu (21/1).
Kebijakan tersebut dirancang agar pertambangan rakyat benar-benar menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat dan tidak dikuasai pemodal besar.
BBKSDA Riau menurunkan tim ke lapangan menyusul laporan kemunculan harimau sumatra di area tambang minyak bumi PT Bumi Siak Pusako (BSP), Siak, Riau.
Sebuah kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Koridor PT RAPP Kilometer 10, Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved