Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Kesehatan (Dinkes) Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) menggalakkan juru pemantau jentik (jumantik) di masing-masing rumah, terutama di wilayah endemis demam berdarah dengue (DBD).
Sebelumnya jumlah jumantik di Banyumas hanya 40 orang yang umumnya adalah pegiat PKK di desa. Oleh kerena itu, Dinkes Banyumas menggiatkan penunjukkan jumantik di sekitar 36 desa endemik di Banyumas.
Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Banyumas Arif Burhanudin mengakui kalau kasus DBD di Banyumas merebak sama seperti daerah lainnya.
"Pada Januari tercatat 39 kasus DBD, sedangkan pada Fabruari masih menunggu laporan dari RS. Tetapi, Dinkes terus berupaya untuk menekan kasus DBD. Di antaranya dengan pengasapan, mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kami juga menggalakkan jumantik di daerah-daerah endemis," jelas Arif, Kamis (7/2).
Baca juga: DBD Merebak Lima Warga Meninggal Dunia
Menurutnya, sampai sekarang jumlah jumantik di Banyumas, masih cukup terbatas hanya 40 orang. Mereka umumnya adalah para pegiat PKK dan rata-rata jumantik berada di daerah endemis DBD.
"Dinkes terus menggalakkan jumantik dan didorong agar satu rumah ada satu jumantik. Hal itu akan sangat efektif untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD," ujarnya.
Arif mengungkapkan naiknya kasus DBD di Banyumas disebabkan karena faktor curah hujan yang tinggi.
"Dengan curah hujan yang tinggi, banyak genangan di sekitar rumah, sehingga menciptakan tempat perkembangbiakan nyamuk. Ironisnya, sejauh ini masyarakat lebih fokus di dalam rumah. Padahal, lingkungan sekitar juga harus terus dipantau. Misalnya ada tumbukan ban bekas, ember, bambu dan lainnya. Barang-barang itu menciptakan genangan air yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, lingkungan harus terus diawasi," kata dia. (OL-3)
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, pada Maret mengalami peningkatan dibandingkan Februari.
SEPANJANG periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 44 warga di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, positif terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan ketahanan masyarakat terhadap bahaya demam berdarah melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya petugas kesehatan dan beberapa puskesmas harus terlibat menggerakan masyarakat supaya lingkungan bersih.
Kementerian Kesehatan menerapkan teknologi Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD).
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved