Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diingatkan agar tidak terlalu mengandalkan fogging sebagai upaya memberantas nyamuk Aedes Aegipty penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Alasannya, jika fogging dilakukan terus menerus, hal itu akan berdampak terhadap risiko kesehatan.
"Kalau fogging itu sifatnya hanya sesaat dan hanya membunuh nyamuk dewasa. Selain itu (fogging) juga berisiko. Kalau daya tubuh manusia tidak kuat, itu bisa jadi resisten karena ada residunya," tutur Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Tresna Gumilar, Rabu (6/2).
Upaya efektif, kata Tresna, sebetulnya bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Misalnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang satu di antaranya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
"Yang paling aman itu ya PSN atau 3M Plus," ucapnya.
Selama Januari jumlah laporan DBD di Kabupaten Cianjur tercatat lebih kurang 90 kasus. Dua orang di antaranya meninggal dunia. Namun Dinas Kesehatan belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena jumlah kasusnya belum mencapai dua kali lipat atau lebih dari sebelumnya.
"Statusnya masih siaga, belum KLB," tegas Tresna.
Baca juga: DBD Kit bisa Deteksi 10 Menit, BPPT Jajaki Gandeng BUMN Farmasi
Tresna menyebutkan mewabahnya DBD saat ini dipicu dua faktor. Pertama karena kondisi cuaca ekstrem. Tingginya intensitas curah hujan memicu banyaknya genangan air sehingga mempercepat proses berkembangbiaknya jentik nyamuk.
"Kalau cuaca itu harus bisa menjadi kawan. Kita tidak bisa menolak kalau yang hubungannya dengan kondisi alam atau cuaca. Terpenting, bagaimana sekarang masyarakat bisa menerapkan PHBS di masing-masing lingkungan tempat tinggal. Kalau masyarakat bisa menerapkannya, Insyaallah tidak akan ada penyebaran DBD," ungkap Tresna.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Neneng Efa Fatimah, menambahkan berbagai upaya sudah dilakukan Dinkes Kabupaten Cianjur menangkal makin merebaknya wabah DBD. Di antaranya menyebarkan surat ke semua puskesmas agar lebih memerhatikan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan melaksanakan 3M plus.
"Di setiap rumah juga biasakan menebar abate dengan menaburkannya ke bak-bak air," tuturnya.
Upaya lain menangkal berkembangbiaknya jentik bisa dilakukan dengan menanam tanaman pencegah nyamuk. Misalnya tanaman pohon salam.
"Ada lima jenis tanaman yang bisa mencegah datangnya nyamuk. Itu bisa dimanfaatkan," tandasnya. (OL-3)
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
ECDC mencatat lebih dari 5 juta kasus demam berdarah dengue (DBD) secara global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Vaksin yang sedang diuji adalah V181-005, sebuah formulasi baru yang berpotensi memberikan perlindungan yang lebih cepat dan efisien.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), selama Januari hingg 30 Oktober 2025 angka demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai 131.393 kasus.
Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved