Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah menyatakan hanya 19 peralatan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) tsunami yang berfungsi. Padahal, di Cilacap ada 33 EWS yang tersebar di enam kecamatan rawan tsunami.
"Bulan ini, kami telah melakukan ujicoba. Yang berfungsi normaladalah Indonesia Tsunami Early Warning System (EWS) yang dikendalikan dari BMKG pusat di dua titik yakni Cilacap Selatan dan Nusawungu.Tetapi, dari total 53 EWS yang ada, yang berfungsi baik hanya tinggal di 19 titik, termasuk dua titik Ina-Tews tersebut," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy.
Ada sejumlah penyebab tidak berfungsinya EWS, di antaranya adalah gangguan persinyalan, gangguan cuaca maupun listrik. "Banyaknya kerusakan peralatan EWS karena dana pemeliharaannya yang minim. Setiap tahunnya di Cilacap, per alat EWS hanya dialokasikan Rp1,5 juta sehingga memang masih sangat kurang. Kalau ada perbaikan tidak maksimal, hanya tambal sulam," ungkapnya.
BPBD Cilacap, kata Tri Komara, juga telah mengajukan permintaan bantuan ke BPBD Jateng dan BNPB dana pemeliharaan sejak dua tahun lalu tetapi sampai sekarang tidak ada realisasinya. "Sebab, kalau menggantungkan dana pemeliharaan dari APBD, jelas berat. Kami hanya mendapat anggaran Rp60 juta,"jelasnya. (X-11)
“Pemilihan lokasi pemasangan EWS didasarkan pada kejadian banjir susulan akhir tahun 2025 di Desa Lampahan Timur,”
Sebanyak 62 jadwal perjalanan kereta cepat Whoosh kembali normal usai gempa bermagnitudo 4,9 di Kabupaten Bekasi.
Sistem peringatan dini gempa bumi memanfaatkan jaringan sensor seismik untuk mendeteksi gelombang primer (P)—gelombang cepat yang muncul pertama kali saat gempa terjadi.
BMKG membuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang resmi beroperasi sejak 11 November 2008.
Potasium bisa dijadikan indikator baru dalam pemantauan aktivitas vulkanik, terutama untuk menilai potensi terjadinya letusan besar yang memicu pembentukan kaldera.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyebaran informasi kebencanaan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk operator seluler dan televisi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved