Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
SOSOK gitaris Zendhy Kusuma akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait video insiden di sebuah restoran yang beberapa waktu lalu viral di media sosial.
Ia mengakui pada malam kejadian dirinya sempat terpancing emosi, tapi menilai peristiwa tersebut kemudian berkembang jauh melampaui kejadian sebenarnya setelah rekaman CCTV beredar di media sosial dan memicu berbagai reaksi publik, termasuk cyberbullying di ruang digital.
Menurut Zendhy, kejadian tersebut bermula dari situasi yang tidak nyaman ketika dirinya dan keluarga menunggu pesanan cukup lama di restoran pada September tahun lalu.
“Saya tidak menutup mata pada malam itu emosi saya terpancing dan ada sikap yang seharusnya bisa disampaikan dengan cara lebih baik,” ujar Zendhy, Sabtu (7/3).
Ia menjelaskan saat itu dirinya dan keluarga menunggu cukup lama untuk pesanan yang tidak kunjung datang. Dalam kondisi lapar dan lelah, situasi tersebut akhirnya membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Namun, menurut Zendhy, peristiwa yang sebenarnya merupakan kejadian antara pelanggan dan restoran itu berubah drastis setelah potongan rekaman CCTV beredar luas di media sosial.
Zendhy mengatakan sejak video tersebut viral, dirinya dan keluarga menghadapi berbagai tekanan di ruang digital, mulai dari komentar negatif, penyebaran informasi pribadi, hingga cyberbullying.
“Yang kami sesalkan adalah ketika peristiwa tersebut berkembang jauh melampaui kejadian sebenarnya. Setelah video itu beredar, kami dan keluarga mengalami berbagai bentuk cyberbullying di media sosial,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat melihat rekaman yang beredar di media sosial bukanlah gambaran utuh dari keseluruhan peristiwa yang terjadi pada malam itu.
Menurut Zendhy, potongan video tersebut juga disertai narasi tambahan yang tidak sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya, sehingga menimbulkan kesan menyesatkan dan memicu berbagai tuduhan di ruang digital.
“Kami percaya setiap peristiwa sebaiknya dilihat secara utuh dan berdasarkan fakta. Ketika sebuah potongan video disertai narasi yang tidak lengkap, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya merugikan banyak pihak,” ujarnya.
Zendhy juga menyampaikan terdapat rekaman lain yang menunjukkan situasi berbeda dari yang berkembang di media sosial. Dalam rekaman itu terlihat dirinya datang dengan niat menyelesaikan persoalan secara baik, termasuk ketika hendak melakukan pembayaran.
Namun, dalam situasi tersebut justru terjadi respons yang tak kondusif dari pihak lain, sehingga situasi menjadi semakin tidak nyaman.
Menurutnya, ini menunjukkan peristiwa tersebut tidak sesederhana potongan video yang beredar di media sosial.
Zendhy menegaskan setelah kejadian tersebut dirinya tetap berupaya menyelesaikan persoalan secara langsung dengan pihak restoran.
“Saya datang kembali untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan menyelesaikan kewajiban pembayaran. Harapan saya sebenarnya sederhana, persoalan ini bisa diselesaikan secara baik tanpa harus berkembang menjadi polemik besar,” ujarnya.
Zendhy juga menyampaikan saat ini persoalan tersebut tengah berada dalam proses hukum dan ia menghormati sepenuhnya proses yang sedang berjalan.
“Saya percaya proses hukum akan melihat seluruh peristiwa ini secara utuh dan objektif,” katanya.
Melalui klarifikasi ini, Zendhy juga mengajak masyarakat untuk melihat peristiwa itu secara lebih bijak serta menjadikannya sebagai pelajaran bersama.
“Mungkin kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Belajar menjadi konsumen lebih baik, belajar jadi pemilik usaha yang lebih bijak dalam menyikapi pelanggan, dan juga belajar menjadi netizen yang tidak mudah melakukan cyberbullying,” kata Zendhy.
Ia berharap ruang digital dapat jadi tempat lebih sehat yakni setiap persoalan tidak langsung berubah menjadi penghakiman massal terhadap seseorang maupun keluarganya.
“Pada akhirnya kita semua manusia yang bisa melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan memperbaikinya tanpa harus saling menghancurkan di ruang digital,” tutupnya. (H-2)
Pemilik rumah makan Bibi Kelinci di Kemang, Jakarta Selatan, Nabilah O’Brien, menilai penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) sangat janggal
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved