Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang berlangsung istimewa. Sebanyak 106 pasangan pengantin mengikuti resepsi pernikahan massal “Tangerang Ngebesan 2026” yang digelar di Plaza Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Kamis (12/2).
Menariknya dari total peserta, 9 pasangan merupakan non-muslim. Momentum ini menjadi simbol kuat inklusivitas Kota Tangerang.
Di tengah perayaan budaya Betawi yang kental, pasangan dari berbagai latar belakang agama berdiri berdampingan merayakan hari bahagia mereka. Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menegaskan bahwa Tangerang Ngebesan bukan sekadar resepsi massal, melainkan perwujudan persatuan dalam keberagaman.
“Tangerang Ngebesan ini bukan sekadar resepsi, tetapi wujud kebersamaan dan identitas budaya kita. Kota Tangerang milik semua dan kebahagiaan hari ini adalah kebahagiaan bersama,” ujar Sachrudin.
Prosesi adat Betawi menjadi daya tarik utama. Tradisi Palang Pintu dengan atraksi silat serta adu pantun jawara menghidupkan suasana. Balutan budaya lokal yang kuat menunjukkan bahwa modernisasi kota tetap berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi.
Sebelum resepsi, para pasangan telah difasilitasi melalui 'Sidang Isbat Nikah dan Pencatatan Perkawinan' sesuai ketentuan yang berlaku. Pemerintah Kota Tangerang kemudian melengkapi momen tersebut dengan resepsi yang layak dan penuh makna.
Langkah ini dinilai bukan hanya membantu legalitas administrasi pasangan, tetapi juga menghadirkan rasa dihargai dan diakui secara sosial.
Salah satu pasangan non-muslim, Owen dan Mishel, penganut Konghucu mengaku terharu dapat menjadi bagian dari perayaan tersebut. “Kami merasa bangga dan terharu bisa ikut dalam perayaan ini. Selain meriah, kami juga merasakan kebersamaan yang luar biasa. Semoga Kota Tangerang semakin maju dan harmonis. Terima kasih Pemkot Tangerang sudah mengadakan acara ini,” ungkap Owen.
Partisipasi pasangan non-muslim dalam resepsi massal bernuansa adat Betawi menjadi pesan kuat bahwa ruang kebahagiaan publik di Kota Tangerang terbuka bagi semua warga, tanpa memandang latar belakang agama.
Melalui Tangerang Ngebesan 2026, Pemerintah Kota Tangerang menegaskan paradigma pembangunan yang lebih humanis. Bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga merawat kebahagiaan, menjaga budaya dan memperkuat ikatan sosial.
Diusia ke-33, Kota Tangerang menunjukkan bahwa kemajuan kota tidak harus mengikis identitas lokal. Justru, melalui tradisi dan kebersamaan, fondasi harmoni diperkuat.
Tangerang Ngebesan 2026 pun menjadi bukti bahwa perayaan budaya bisa menjadi ruang persatuan sebagai tempat semua warga, tanpa kecuali, merasakan arti menjadi bagian dari kota yang sama.(H-2)
Pemerintah Kota Bandung bersama Yayasan Mimbar Hiburan dan Amal Bagi Dhuafa menggelar nikah massal bagi pasangan disabilitasdalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.
Kegiatan nikah massal difasilitasi dana otonomi khusus yang mencakup pembiayaan busana, rias, cincin, pemberkatan di gereja, hingga resepsi di gedung.
Nikah massal digelar sebagai salah satu upaya membantu masyarakat kurang mampu dan upaya menekan jumlah nikah siri yang tergolong banyak di Kalsel.
Sebanyak 100 pasangan dari berbagai latar belakang resmi menikah dalam perhelatan nikah massal yang diadakan Kemenag di Masjid Istiqlal.
SEBANYAK 7.382 pasangan suami istri di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, masih belum memiliki dokumen buku nikah dan paling banyak dari warga kurang mampu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved