Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kesaksian Pedih Para Pedagang Korban Kerusuhan Mata Elang di Kalibata

Andhika Prasetyo
13/12/2025 07:53
Kesaksian Pedih Para Pedagang Korban Kerusuhan Mata Elang di Kalibata
Tempat kejadian perkara (TKP) pengeroyokan mata elang di seberang Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.(Antara)

Sejumlah pedagang terluka dan menderita kerugian akibat pengeroyokan serta perusakan yang menewaskan penagih utang atau mata elang (matel) di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Kamis (11/12).

"Karena ketakutan, karena ini sudah dibakar, kita cari jalan supaya gimana caranya kita berempat ini jangan sampai kepanggang. Sampai, ya, kondisi luka-luka seperti ini," kata salah satu pegawai yang bekerja di kawasan kuliner Kalibata bernama Andi kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Pria yang sudah berjualan selama 20 tahunan itu bersama dengan pegawai lainnya sampai harus menaiki pagar berduri dan bersembunyi di dalam area kantor Kementerian Dalam Negeri. Meskipun tangan dan kakinya terluka, namun saat itu yang terpenting adalah nyawanya selamat.

Mereka bersembunyi di dalam gedung Kemendagri hingga situasi dan kondisi di lapangan terbilang aman. Mereka pun mengaku pasrah dengan kerugian yang dialami.

"Ya, ini mesin chiller, mesin freezer, kemudian ada brankas segala macam ini juga belum bisa hitung semuanya," ujar Andi.

Padahal, sebelumnya sejumlah pedagang sudah menutup akses dengan menggunakan pintu akses, namun sejumlah oknum dapat merangsek masuk dan membakar kios serta warung.

Sementara itu, pedagang steak bernama Henny Maria mengaku sudah berjualan di lokasi tersebut sejak 2022. Dia sempat merenovasi dua tenda dan satu kios pada September 2025.

"Yang kami sayangkan, kami menjadi korban ketidakadilan yang menurut saya melakukan kerusuhan tidak pada tempatnya. Itu saja," ucap Henny.

Untuk membangun bisnisnya, dia mengaku meminjam uang dari bank sebesar hampir Rp97 juta, namun ini belum mencakup barang, listrik, dan bangunan lainnya.

Menurut dia, butuh dana sebanyak tiga digit untuk merenovasi kiosnya secara keseluruhan, terlebih mengingat biaya sewa kios yang tidak murah di Jakarta.

"Lalu, renovasi ini habisnya juga nilainya juga tiga digit, ya, dengan ditambah yang bergantung hidup sekarang, nggak tahu kapan dan gimana mulainya lagi, kami nggak tahu," ungkap Henny.

Sebelumnya, kepolisian memeriksa enam saksi terkait kasus pengeroyokan serta perusakan yang menewaskan penagih hutang atau mata elang (matel) di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Kamis (11/12) malam.

Polisi juga menyebutkan hutang sepeda motor menjadi penyebab pengeroyokan dan perusakan tersebut. Pemilik kendaraan, sampai dengan saat ini, belum menerima uang sepeserpun sehingga mengerahkan temannya untuk menagih. Namun, diketahui dua orang berinisial MET dan NAT yang bertugas menagih utang itu malah dikeroyok hingga meninggal dunia. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya