Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PUBLIK digegerkan oleh adanya video viral sosialita sekaligus selebgram Helena Lim yang mendapatkan vaksinasi gratis di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Hal ini dipertanyakan publik pasalnya saat ini prioritas penerima vaksin covid-19 di Jakarta adalah tenaga kesehatan (nakes).
Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak pun sudah mencurigai keakuratan data vaksinasi di Jakarta. Karena kasus seperti ini bukan yang pertama kali, menurut Gilbert, sebelumnya ada seorang penerima yang berusia 70 tahun mendapatkan vaksinasi. Ini terjadi saat awal dilakukannya vaksinasi.
“Ini adalah satu masalah dari beberapa masalah. Sebelum ini sudah ada yang berusia 70 tahun dapat vaksinasi saat awal dilakukan vaksinasi. Ini masalah pendataan di DKI yang tidak benar,” kritiknya saat dihubungi, Jumat (12/2).
Ia menilai Pemprov DKI Jakarta suka bermain data sedari awal. Hal ini pun berdampak terhadap kurang akuratnya sejumlah data terkait penanganan covid-19. Ia mencontohkan, saat ada kasus covid-19 harian yang naik selalu mengkambinghitamkan data pekan sebelumnya yang baru masuk ke Dinkes DKI. Hal ini pun dalam amatannya berulang dan penjelasannya dinilai tidak masuk akal.
“Oleh karena itu, ia meminta agar alasan dari sosialita menjadi penerima vaksin harus diteliti, ini makin membuat kita ragu akan keseriusan Pemprov DKI. Data yang ikut pemeriksaan PCR (testing) juga meragukan, banyak sekali yang dobel. Karena itu kita berharap Pemprov DKI jangan main-main dengan data,” ungkapnya.
Baca juga: Selebgram Dapat Vaksin, Pemprov DKI Lakukan Penyelidikan Internal
Gilbert juga meminta setiap pihak yang terlibat baik sosialita tersebut, pihak puskesmas dan lainnya diperiksa. Karena ada kesan kesengajaan dari petugas puskesmas.
“Harus diperiksa apakah ada kesengajaan petugas, karena tidak mungkin itu masuk tanpa mereka input. Hanya siapa yang kasi data harus ditindak, karena niatnya sudah tidak baik,” pungkasnya.
Polres Jakarta Barat telah melimpahkan kasus Helena Lim atau yang dikenal 'crazy rich Jakarta Utara' terkait dugaan menerima vaksin covid-19 gratis lebih dulu di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat AKBP Teuku Arsya mengatakan kasus tersebut telah diambil alih dan pemeriksaan lanjutan akan dilakukan oleh penyidik Polda Metro Jaya.
"Sudah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya," kata Arsya ketika dihubungi, Kamis (11/2).
Sebelumnya, Arsya mengatakan pihaknya telah menyelidiki pemberian vaksin kepada Helena dengan mendatangi Puskesmas Kebon Jeruk dan Apotek Bumi. Polisi memeriksa dan mengintograsi sejumlah petugas puskesmas dan pegawai apotek. Arsya juga telah melayangkan surat pemanggilan kepada Helena untuk dimintai klarifikasi.(OL-5)
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved