Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH sering kita mendengar tentang tiga ucapan atau perilaku yang penting ditanamkan kepada anak semenjak kecil. Itu adalah berterima kasih, meminta tolong, dan meminta maaf.
Di antara ketiganya, meminta maaf mungkin menjadi yang tersulit. Tidak hanya bagi anak, meminta maaf pun juga sulit bagi orang dewasa, sebab itu juga berarti mengakui bahwa kita melakukan kesalahan.
Nyatanya, mengajari anak meminta maaf saja belum cukup. Para pakar parenting menyebutkan bahwa yang tidak kalah penting adalah membuat anak mengerti untuk bertanggung jawab atas kesalahannya, memperbaiki kesalahan itu, dan juga mengerti perasaan orang lain yang mendapat akibat dari kesalahan kita.
Tanpa pemahaman tentang hal-hal tersebut maka anak bisa jadi sekadar mengucapkan maaf di bibir. Akibatnya pula, ia bisa saja tidak mengerti tentang kesalahannya dan, sebabnya pula, dapat mengulangi di masa mendatang.
Melansir dari laman Parents, mengajari anak kapan harus meminta maaf dan bagaimana menebus kesalahan karena telah menyakiti atau mengecewakan seseorang merupakan proses bertahap. Artinya, orangtua tidak bisa berharap anak bisa dengan cepat memahami dan terbiasa melakukannya. Meski begitu tetap saja, orangtua harus mengajari anak pentingnya memperbaiki kesalahan.
Lalu, bagaimana caranya? Berikut cara mengajarkan anak kapan harus meminta maaf dan bagaimana menebus kesalahan:
1. Usia 3 Tahun ke Bawah
Agar anak bisa meminta maaf dengan tulus, anak harus menyadari bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah. Menurut Sherry Siman Maliken, seorang pendidik dari Maryland, AS, di usia ini, anak masih ada dalam tahap "aku" yang berarti berfokus pada dirinya sendiri sehingga tidak mempertimbangkan apa yang benar atau salah.
Oleh sebab itu, orangtua dan guru perlu menunjukkan kapan permintaan maaf perlu dilakukan. Misalnya, pada anak-anak usia 1-2 tahun, orangtua bisa berfokus pada menegakkan aturan yang telah ditetapkan. Dengan mempelajarinya, anak akan lebih mudah untuk memahami konsep benar dan salah.
2. Usia 3-5 Tahun
Anak berusia 3-5 tahun perku memahami mengapa penting untuk menunjukkan bahwa mereka menyesali perbuatannya dan meminta maaf. Konsultan pengasuhan Sal Severe, Ph.D., mengatakan orangtua bisa memberi penjelasan sederhana pada anak, seperti "Kita minta maaf ketika kita melakukan sesuatu yang menyakiti atau mengganggu seseorang."
Salain itu, orangtua juga perlu mengajarkan anak berempati dengan cara mengandaikan jika kondisi tersebut dialami sendiri oleh anak. Misalnya, "Rafi menangis karena gambarnya rusak. Coba bayangkan, bagaimana perasaan kamu kalau gambar kamu yang dirusak?" Lalu, orangtua juga perlu memberi cara konkret untuk memperbaiki kesalahannya.
3. Usia 5 Tahun ke Atas
Di usia ini, anak sudah tahu konsep benar dan salah, dan mulai bisa memahami perasaan orang lain. Dr. Severe mengatakan saat sadar telah melakukan kesalahan, anak mungkin khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka. Selain itu, anak juga mencari cara untuk menebus kesalahannya.
Misalnya, seorang anak memecahkan kaca jendela rumah tetangga saat bermain bola misalnya, ia bisa mengganti kerusakan itu dengan uang tabungannya dan berjanji untuk bermain di tempat lain.
Apabila ada anak yang belum bisa mencari cara untuk menebus kesalahannya, orangtua bisa membantu mengarahkan anak dalam menemukan cara terbaik untuk menebus kesalahannya. (M-1)
Riset terbaru mengungkap 16% balita masih mengalami gejala gegar otak setahun setelah cedera.
GAYA parenting Nikita Willy kerap menarik perhatian publik, terutama sejak ia menjalani peran sebagai ibu dari dua anak. Di tengah kesibukannya sebagai figur publik,
Secara medis, puasa yang dilakukan dengan pengawasan orang tua dapat membantu anak belajar pola makan teratur dan mengurangi kebiasaan jajan berlebihan.
Hati-hati, istilah 'Good Boy' kini punya makna negatif di kalangan remaja. Simak bagaimana tren TikTok ini menjadi bentuk perundungan baru di sekolah.
Orang tua disarankan lebih cermat menyiasati pemenuhan gizi anak di rumah, terutama bagi anak yang lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama.
PUTRI Sheila Marcia, Leticia Charlotte Agraciana Joseph, sukses menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar Juara Gadis Sampul 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved