Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBERIAN gawai pada anak bukan lah pemandangan baru. Terkadang orangtua meminjamkan gawai sebagai pilihan hiburan bagi anak atau agar anak bisa sambil diajak bekerja. Tapi tahu kah Anda, screen time berlebihan pada anak usia dini dapat menimbulkan gangguan yang berdampak terhadap perkembangannya.
Dikutip dari laman resmi Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), ada beberapa perkembangan yang bisa terganggu akibat screen time yang berlebihan, baik menatap gawai seperti ponsel maupun televisi.
Gangguan pada perkembangan fisik anak usia dini menjadi salah satu hal yang bisa terjadi akibat screen time berlebihan. Gangguannya meliputi perkembangan motorik dan berkurangnya asupan makanan hingga durasi tidur anak yang lebih pendek.
Baca juga : Ingin Batasi Penggunaan Gawai oleh Anak? Orangtua Harus Mulai dari Diri Sendiri
Bukan hanya itu, screen time berlebih juga bisa mempengaruhi perkembangan kesehatan anak. Banyak berkutat pada gawai membuat aktivitas fisik luar ruang yang lebih rendah, sehingga bisa berakibat anak mengalami kelebihan berat badan, kecanduan dan meningkatkan risiko penglihatan buruk.
Dampak negatif screen time terhadap anak usia dini juga terjadi pada perkembangan sosial- emosional. Dampak pada perkembangan sosial di antaranya berkurangnya kemampuan bersosialisasi pada anak dan hilangnya empati, kurangnya interaksi antara orangtua dan anak, hingga kemungkinan anak mengakses konten yang tidak pantas.
Sementara pada perkembangan emosional, screen time berlebihan bisa mempengaruhi sejumlah hal seperti masalah perilaku, masalah hubungan dengan teman sebaya, regulasi emosi yang buruk, temperamen yang buruk, pengendalian emosi yang rendah. Sehingga mengakibatkan kesejahteraan psikososial yang buruk, pemutusan hubungan permainan, dan gangguan permainan. Selain itu berdampak pula pada berkurangnya keterampilan sosial, keterampilan adaptif, dan keterampilan hidup anak usia dini.
Baca juga : Asmirandah Ungkap Pentingnya Batasi Waktu Anak dengan Gawai
Anak-anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar, rentan mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian mereka pada aktivitas yang memerlukan fokus dan konsentrasi. Tentu hal ini akan berdampak pada kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas yang melibatkan keterlibatan kognitif.
Secara bahasa, kognitif adalah semua aktivitas mental yang membuat individu mampu menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa.
Mengetahui tiga dampak dari penggunaan gawai yang berlebihan diharapkan mampu memberi pemahaman bagi orangtua dan pengasuh untuk membatasi waktu menonton, memastikan aktivitas fisik dan waktu yang dihabiskan di depan layar seimbang. Idealnya, menurut anjuran World Health Organization (WHO), anak di bawah 1 tahun sebaiknya tidak melihat layar gawai sama sekali. Anak usia 1 sampai 2 tahun tidak dianjurkan menonton TV dan video, screen time hanya dibatasi misalnya melakukan video chatting dengan anggota keluarga yang berjauhan.
Sedangkan untuk anak usia 2 hingga 6 tahun bisa menatap layar gawai dengan screen time maksimal satu jam per hari. Alih-alih memberikan gawai sebagai alat bermain serta hiburan anak, orang tua diharapkan bisa lebih banyak mengajak anak melakukan aktivitas bersama dan mengenalkan lingkungan sekitar.(M-3)
Peran orangtua penting dalam menetapkan batasan waktu layar dan mengedepankan interaksi sosial tatap muka untuk mendukung perkembangan sosial-emosional anak.
Penyebab diabetes bisa datang dari mana saja, bahkan hal-hal sederhana yang rutin dilakukan setiap hari seperti penggunaan gawai atau gadget.
Rose tidak mempersoalkan dengan adanya kebijakan anak mengunakan gawai tetapi orang tua harus tetap memantau dan mengarahkan anak-anaknya.
Penggunaan gawai berlebihan dan membaca di tempat minim pencahayaan menjadi dua penyebab utama anak diharuskan menggunakan kacamata
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved