Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

AS Tuduh Rusia dan Tiongkok Lindungi Iran di PBB: Blokir Badan Sanksi

Media Indonesia
13/3/2026 21:00
AS Tuduh Rusia dan Tiongkok Lindungi Iran di PBB: Blokir Badan Sanksi
Ilustrasi.(Freepik)

KETEGANGAN diplomatik di markas besar PBB kembali memuncak. Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menuduh Rusia dan Tiongkok sengaja menghalangi badan PBB yang bertugas mengawasi sanksi terhadap Iran guna melindungi Teheran dari pengawasan internasional.

Dalam pertemuan wajib Komite Sanksi 1737 di Dewan Keamanan PBB pada Kamis (12/3/2026), Waltz menyampaikan kritik tajam terhadap sikap Moskow dan Beijing. Ia menilai kedua negara tersebut secara aktif berupaya melumpuhkan mekanisme pengawasan demi kepentingan mitra mereka.

"Kenyataannya ialah Rusia dan Tiongkok tidak menginginkan komite ini karena akan terus melindungi mitra mereka, Iran," tegas Waltz di hadapan anggota Dewan Keamanan.

Pertentangan mengenai Mekanisme Snapback

Sesi Dewan Keamanan tersebut dibuka dengan tensi tinggi ketika utusan Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mendesak pemungutan suara prosedural untuk menolak pertemuan tersebut. Rusia berargumen bahwa mekanisme snapback yang diaktifkan oleh E3 (Inggris, Prancis, dan Jerman) tidak sah secara hukum.

Nebenzia menyoroti keputusan Amerika Serikat yang menarik diri secara sepihak dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada 2018 sebagai akar permasalahan. Menurutnya, AS tidak memiliki landasan legal untuk menuntut pemulihan sanksi anti-Iran.

Catatan Sejarah: Komite Sanksi 1737 dibentuk pada Desember 2006 dan diwajibkan untuk melaporkan kegiatannya kepada Dewan Keamanan setiap 90 hari guna memantau aktivitas nuklir Iran.

Tiongkok Desak Penghentian Operasi Militer

Utusan Tiongkok, Fu Cong, menyatakan dukungan terhadap mosi Rusia dan menyebut pengaktifan sanksi oleh E3 sebagai tindakan yang cacat secara prosedural. Alih-alih membahas sanksi, Tiongkok justru menyoroti eskalasi militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

"Amerika Serikat dan Israel harus segera menghentikan operasi militer mereka, menahan diri dari menyerang fasilitas nuklir Iran di bawah pengawasan IAEA, dan menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut," ujar Fu Cong.

Fu juga mendesak agar Dewan Keamanan membantu para pihak membangun kepercayaan dan berhenti memanipulasi lembaga internasional tersebut untuk tujuan politik negara tertentu.

Tuduhan Pelanggaran Resolusi PBB

Menanggapi pembelaan Rusia dan Tiongkok, Mike Waltz menolak argumen tersebut dan menyebutnya sebagai penafsiran ulang peristiwa yang tidak jujur. AS mengeklaim memiliki bukti bahwa Rusia dan Tiongkok tetap mempertahankan hubungan perdagangan militer dengan Iran yang jelas-melanggar resolusi PBB.

"Amerika Serikat akan terus berupaya untuk memastikan Iran tidak lagi dapat menyandera dunia dengan program rudal, drone, dan tentu saja bukan program nuklirnya," pungasional Waltz.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Dewan Keamanan tetap buntu tanpa kesepakatan mengenai pengaktifan kembali fungsi penuh Komite 1737, mencerminkan perpecahan mendalam di antara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. (Anadolu/Ant/I-2)

Pertanyaan Terkait (FAQ)

  • Apa itu Komite Sanksi 1737? Badan PBB yang bertugas mengawasi pelaksanaan sanksi terkait program nuklir Iran.
  • Apa itu mekanisme snapback? Prosedur dalam kesepakatan nuklir 2015 yang memungkinkan sanksi PBB diberlakukan kembali secara otomatis jika Iran melanggar perjanjian.
  • Mengapa Rusia dan Tiongkok menolak sanksi tersebut? Mereka menganggap AS tidak memiliki hak hukum setelah keluar dari JCPOA dan menilai langkah E3 cacat prosedur.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya