Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIRI Haidar Alwi Institute (HAI) R. Haidar Alwi menilai Amerika Serikat mengalami kekalahan strategis dalam konflik terbaru dengan Iran. Menurutnya, faktor energi, khususnya minyak dan jalur distribusinya, menjadi penentu utama dalam dinamika perang modern yang terjadi di kawasan Teluk Persia.
Haidar Alwi mengatakan, kemenangan dalam perang modern tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan senjata atau kekuatan militer konvensional, melainkan oleh kemampuan mengendalikan faktor strategis lain, termasuk energi.
“Dalam perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki rudal paling presisi atau jet tempur paling canggih. Terkadang kemenangan ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu energi,” ujar Haidar Alwi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/3).
Menurut dia, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas sejak akhir Februari 2026 memperlihatkan bagaimana jalur energi global dapat menjadi alat tekanan geopolitik yang sangat efektif.
Haidar menjelaskan, Selat Hormuz menjadi titik kunci dalam konflik tersebut. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari melewati jalur tersebut, sehingga menjadikannya salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Ketika ketegangan meningkat, Iran dinilai memanfaatkan posisi strategis itu dengan mengganggu lalu lintas kapal tanker di wilayah tersebut.
“Selat Hormuz adalah kuncinya. Ketika konflik memanas, Iran mengubah jalur itu menjadi senjata strategis yang langsung mengguncang sistem energi global,” kata Haidar.
Ia menyebut dampaknya langsung terasa di pasar internasional. Lalu lintas kapal tanker yang melewati selat tersebut dilaporkan anjlok hingga sekitar 97 persen. Kondisi itu hampir menghentikan aliran energi dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Situasi tersebut memicu kepanikan di pasar energi dunia. Harga minyak melonjak tajam hingga mendekati 120 dolar Amerika Serikat per barel, sementara pasar global mengalami gejolak akibat ancaman krisis energi baru.
Selain itu, sejumlah infrastruktur energi di kawasan Teluk juga dilaporkan mulai terganggu, termasuk terminal gas alam cair (LNG) di Qatar serta fasilitas minyak di Arab Saudi dan Irak.
Haidar mengatakan lonjakan harga minyak berdampak luas terhadap perekonomian dunia. Kenaikan harga energi memicu inflasi global, meningkatkan biaya transportasi, serta berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan biaya produksi industri.
“Setiap lonjakan harga minyak langsung menjalar ke inflasi global. Biaya transportasi naik, harga pangan naik, industri terguncang, dan risiko resesi global meningkat,” ujarnya.
Ia menilai Iran memahami keunggulan strategis tersebut. Meski tidak mampu menandingi kekuatan militer Amerika Serikat secara langsung, Iran dinilai mampu menekan sistem ekonomi global melalui gangguan terhadap jalur energi.
“Selama Selat Hormuz tidak aman, tekanan internasional akan muncul terhadap pihak yang dianggap memperpanjang konflik,” kata Haidar.
Menurutnya, tekanan tersebut datang dari berbagai pihak, mulai dari negara-negara industri, pasar keuangan global, perusahaan energi, hingga lembaga internasional yang khawatir terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Negara-negara anggota G7 bahkan disebut mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasar energi global.
Haidar menilai situasi itu membuat Amerika Serikat mulai memberi sinyal de-eskalasi konflik. Pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyebut konflik hampir selesai, kata dia, turut memicu penurunan harga minyak di pasar dunia.
“Ini menunjukkan bahwa dalam konflik tersebut bukan hanya medan perang yang menentukan, tetapi juga pasar energi global,” ujarnya.
Haidar menambahkan, strategi Iran bukan memenangkan perang secara militer, melainkan meningkatkan biaya ekonomi konflik hingga menjadi terlalu mahal untuk dilanjutkan.
“Dalam perang seperti ini, yang menentukan bukan siapa yang menembakkan rudal terakhir, tetapi siapa yang mampu membuat perang menjadi terlalu mahal untuk diteruskan,” kata Haidar Alwi. (E-2)
ANGGOTA Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Golkar Gandung Pardiman mendorong Pemerintah agar mengantisipasi terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
PAKAR energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai harga minyak dunia masih berpotensi melonjak hingga mencapai US$130 per barel.
IRAN menyatakan tidak akan membiarkan Amerika Serikat, Israel, maupun negara sekutunya menerima pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah selama konflik masih berlangsung.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney meminta G7 melepas cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga akibat perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump buka peluang dialog dengan Iran pasca tewasnya Ayatollah Khamenei. Simak update ketegangan AS-Israel dan respon Rusia di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved