Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar berita di layar televisi bagi Tetap Segar, 58. Teknisi pesawat asal Kabupaten Tangerang, Banten ini, merasakan langsung bagaimana langit Teheran, Iran, bergejolak akibat gempuran rudal hampir setiap hari.
Segar merupakan satu dari 22 warga negara Indonesia (WNI) gelombang pertama yang berhasil dievakuasi dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (10/3/2026). Ia menceritakan bagaimana situasi keamanan di Iran sudah tidak lagi kondusif bagi warga asing.
Bekerja sebagai teknisi pesawat membuat Segar berada di titik paling krusial, yakni Bandara Internasional Imam Khomeini (IKA) dan Bandara Mehrabad (THR). Kedua lokasi ini menjadi saksi bisu serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
"Hampir setiap hari serangan itu terjadi. Lokasi kerja saya tepat di bandara internasional dan domestik, jadi saya melihat langsung gempuran-gempuran rudal tersebut," ujar Segar saat ditemui pasca-mendarat di tanah air.
Meski situasi mencekam, Segar mencatat fenomena unik yaitu warga lokal terlihat sudah terbiasa dengan suara ledakan. Namun, bagi warga pendatang, ketidakpastian tersebut memaksa perusahaan tempatnya bekerja untuk menghentikan aktivitas total dan memulangkan pekerja ke asrama.
Status Siaga: Selama beberapa pekan terakhir, perusahaan tempat Segar bekerja menerapkan status siaga tinggi dengan meliburkan seluruh operasional teknis untuk menghindari jatuhnya korban jiwa di area bandara.
Menyadari situasi yang tidak kunjung reda, Segar memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran. Ia memilih jalur repatriasi pemerintah karena merasa lebih aman dan terkoordinasi.
Perjalanan pulang Segar dan 21 rekan lain tidaklah singkat. Mereka harus menempuh jalur evakuasi melalui Baku, Azerbaijan, sebelum diterbangkan menggunakan Turkish Airlines menuju Jakarta. Selama proses tersebut, petugas KBRI memberikan pendampingan penuh untuk memastikan keselamatan para WNI.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono yang menyambut rombongan ini menyatakan bahwa pemerintah tidak berhenti pada gelombang pertama saja. Saat ini, koordinasi erat terus dilakukan dengan perwakilan RI di luar negeri untuk memantau sisa WNI yang masih terjebak.
"Sore ini ada 22 WNI yang kembali di gelombang pertama. Besok, 10 orang lagi dijadwalkan berangkat dari Iran," jelas Menlu Sugiono. Secara total, terdapat 36 WNI yang telah mendaftarkan diri untuk dipulangkan pada tahap kedua.
Pemerintah Indonesia terus mengimbau seluruh WNI di kawasan konflik untuk tetap waspada dan segera menjalin komunikasi dengan KBRI jika situasi di wilayah masing-masing semakin memburuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved