Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi bangsa Spanyol, tahun 2003 dan 2004 bukan sekadar catatan di buku sejarah, melainkan luka nasional yang mengubah arah politik negara tersebut selamanya. Keterlibatan Spanyol dalam invasi Irak pimpinan Amerika Serikat sering disebut sebagai salah satu kesalahan strategis terbesar yang harus dibayar dengan nyawa warga sipil di tanah mereka sendiri.
Pada tahun 2003, Perdana Menteri Spanyol saat itu, José María Aznar, mengambil keputusan berisiko tinggi dengan bergabung dalam "Koalisi Orang-orang yang Mau" (Coalition of the Willing) bersama George W. Bush dan Tony Blair. Foto mereka bertiga di Kepulauan Azores menjadi simbol aliansi yang sangat tidak populer di Spanyol.
Data menunjukkan bahwa hampir 90% warga Spanyol menentang keterlibatan dalam perang tersebut. Demonstrasi jutaan orang memenuhi jalan-jalan di Madrid dan Barcelona, namun pemerintah Aznar tetap bergeming, demi ambisi menempatkan Spanyol sebagai pemain utama di panggung global dan mempererat hubungan dengan Washington.
Trauma terbesar terjadi pada 11 Maret 2004, yang dikenal sebagai tragedi "11-M". Serangkaian bom meledak di empat kereta komuter di stasiun Atocha, Madrid, menewaskan 191 orang dan melukai lebih dari 1.800 lainnya. Serangan ini merupakan aksi terorisme Islamis paling mematikan dalam sejarah Eropa modern.
Al-Qaeda secara eksplisit menyatakan bahwa serangan tersebut adalah balasan atas kehadiran pasukan Spanyol di Irak dan Afghanistan. Rakyat Spanyol merasa dikhianati; mereka merasa ditarik ke dalam perang yang tidak mereka inginkan, yang kemudian membawa maut ke depan pintu rumah mereka.
Hanya tiga hari setelah bom meledak, Spanyol menggelar pemilu. Pemerintah Aznar awalnya mencoba menyalahkan kelompok separatis Basque (ETA) demi kepentingan elektoral, namun ketika bukti mengarah ke Al-Qaeda, rakyat marah. Hasilnya, Partai Sosialis (PSOE) yang dipimpin José Luis Rodríguez Zapatero menang secara mengejutkan.
Sesuai janji kampanye dan merespons trauma nasional, tindakan pertama Zapatero adalah menarik seluruh pasukan Spanyol dari Irak pada April 2004. Langkah ini sempat merenggangkan hubungan Spanyol dengan Amerika Serikat selama bertahun-tahun, namun mendapat dukungan luas dari publik domestik.
Hingga tahun 2026, trauma ini masih membekas. Spanyol kini cenderung lebih berhati-hati dalam intervensi militer internasional. Setiap keterlibatan militer di luar negeri harus melalui perdebatan parlemen yang sengit dan transparansi yang tinggi. Peristiwa 2003-2004 mengajarkan Spanyol bahwa kebijakan luar negeri yang mengabaikan suara rakyat bisa berakibat fatal bagi keamanan nasional.
| Aspek | Dampak Jangka Panjang |
|---|---|
| Geopolitik | Kembali ke poros Uni Eropa (Prancis-Jerman). |
| Militer | Skeptisisme tinggi terhadap invasi darat skala besar. |
| Sosial | Luka kolektif 191 korban jiwa yang selalu diperingati tiap 11 Maret. |
Penulis: MI-Studio
PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian memuji keputusan Spanyol yang menolak membantu Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved