Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIATOR Oman menyatakan adanya kemajuan signifikan dalam pertemuan tingkat tinggi Amerika Serikat (AS) dan Iran di Jenewa, meski sejumlah isu krusial masih menjadi perbedaan. Di tengah tekanan tenggat dari Presiden Donald Trump, kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi ke tahap teknis pekan depan.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi mengungkapkan bahwa dialog yang melibatkan utusan Presiden AS Donald Trump dan delegasi Teheran berlangsung intens sejak pagi hingga sore hari.
"Kami telah menyelesaikan hari ini setelah adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," kata Albusaidi dalam unggahannya di media sosial X setelah pertemuan berakhir pada Kamis (26/2).
Menurutnya, pembicaraan kali ini menghasilkan kerangka komunikasi yang lebih jelas dibandingkan putaran sebelumnya. Ia menyebut kedua pihak menunjukkan pendekatan yang lebih konstruktif dalam upaya memecah kebuntuan isu nuklir yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
"Kedua belah pihak telah bertukar ide-ide yang kreatif dan positif selama sesi pembicaraan berlangsung," tambah Albusaidi.
Meski menyampaikan nada optimistis, Albusaidi belum memastikan apakah seluruh hambatan utama menuju kesepakatan final telah teratasi. Ia memastikan komunikasi akan berlanjut ke tahap teknis yang lebih rinci pada pekan depan di Wina.
Pernyataan sejalan disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, kepada televisi pemerintah Iran. Ia mengakui adanya sejumlah titik temu, namun juga menegaskan masih terdapat perbedaan pada isu-isu krusial.
"Kami mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, dan terdapat perbedaan mengenai beberapa isu lainnya. Diputuskan bahwa putaran negosiasi berikutnya akan berlangsung segera, dalam waktu kurang dari satu minggu," kata Araqchi.
Araqchi menegaskan bahwa posisi Teheran tetap konsisten, terutama dalam tuntutan pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani negaranya.
"Pihak Iran telah menyatakan dengan jelas tuntutan kami untuk pencabutan sanksi-sanksi AS," tuturnya.
Ia menekankan bahwa fleksibilitas Iran tetap berada dalam kerangka pengakuan hak nuklirnya, sementara Washington disebut masih meminta konsesi besar sebelum mempertimbangkan pelonggaran sanksi.
Di sisi lain, Trump terus meningkatkan tekanan dengan menetapkan tenggat waktu singkat bagi Iran untuk mencapai kesepakatan baru. Dalam pernyataannya pada 19 Februari, ia kembali melontarkan peringatan keras.
"Iran harus membuat kesepakatan dalam 10 hingga 15 hari ke depan, jika tidak, hal-hal yang sangat buruk akan terjadi," tegas Trump.
Ancaman tersebut muncul di tengah kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer jika diplomasi gagal membuahkan hasil.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berupaya meredakan ketegangan dengan menegaskan bahwa program nuklir negaranya tidak ditujukan untuk kepentingan militer. Ia merujuk pada ketetapan agama yang berlaku di Iran.
"Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal, yang secara jelas berarti Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir," ungkap Pezeshkian.
Perundingan yang berlanjut ke tahap teknis pekan depan akan menjadi penentu arah hubungan Washington dan Teheran di tengah tekanan politik serta bayang-bayang eskalasi militer di kawasan. (CNBC/Fer/I-1)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tak akan tunduk pada tuntutan berlebihan AS terkait program nuklir, di tengah negosiasi dan meningkatnya ketegangan kawasan.
IRAN belum membuat keputusan apa pun untuk memulai perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meragukan negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat akan membuahkan hasil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved