Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMIMPIN Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meragukan negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat akan membuahkan hasil. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa (21/5), Khamenei mengingatkan negosiasi pada era pemerintahan mantan Presiden Ebrahim Raisi tidak menunjukkan hasil konkret.
"Negosiasi tidak langsung (dengan AS) dilakukan pada era (mantan Presiden Iran Ebrahim Raisi), seperti sekarang, tetapi tanpa hasil. Saya rasa, negosiasi itu juga tidak akan membuahkan hasil sekarang," ujarnya seperti dikutip kantor berita Mehr.
Khamenei juga mengkritik keras tuntutan Amerika Serikat agar Iran menghentikan pengayaan uranium. "Tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium adalah kesalahan besar," katanya seperti dilansir ISNA.
Ia menegaskan kebijakan Iran adalah hasil keputusan internal dan tidak dapat ditentukan oleh pihak luar.
Ketegangan berlanjut
Sehari sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, memperingatkan bahwa kesepakatan nuklir tidak akan tercapai jika Washington terus berkeras menghentikan total aktivitas pengayaan uranium Iran.
Iran dan Amerika Serikat telah menjalani empat putaran perundingan nuklir sejak pertengahan April, yang dimediasi oleh Oman, setelah Presiden Donald Trump mengirim surat langsung kepada Khamenei. Surat pada awal Maret itu menawarkan proposal kesepakatan baru namun juga disertai ancaman aksi militer jika jalur diplomatik gagal.
Iran menolak opsi perundingan langsung, tetapi setuju melakukan dialog tidak langsung. Wakil Menlu Iran lainnya, Kazem Gharibabadi, menyebut bahwa pemerintah Iran telah menerima tawaran untuk menggelar putaran pembicaraan tidak langsung berikutnya dan sedang mempertimbangkannya secara serius.
Sementara itu, seorang jurnalis Wall Street Journal tanpa menyebutkan sumbernya mengatakan perundingan lanjutan kemungkinan akan digelar di Roma pada akhir pekan ini.
Sejarah singkat
Iran menandatangani Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA) bersama enam negara besar—Tiongkok, Prancis, Rusia, Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman—serta Uni Eropa. Perjanjian ini mengharuskan Iran mengurangi aktivitas nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi internasional.
Namun, pada 2018 di masa jabatannya yang pertama, Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan tersebut dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah ini secara signifikan merusak implementasi JCPOA.
Menanggapi langkah AS tersebut, Iran mengumumkan akan mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan dengan melanjutkan penelitian dan pengayaan uranium tanpa memperhatikan batasan yang sebelumnya disepakati. (Sputnik-OANA/I-1)
IRAN belum membuat keputusan apa pun untuk memulai perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.
Putra Donald Trump adalah salah satu investor di tambang 'unsur tanah jarang' pertama di pulau Arktik tersebut.
Tiga uskup agung Katolik AS mengatakan bahwa landasan moral untuk tindakan Amerika di dunia dipertanyakan akibat penggunaan atau ancaman kekuatan militer kembali.
ANCAMAN Donald Trump pada Sabtu (17/1) untuk mengenakan tarif pada delapan negara Eropa kecuali mereka mendukung rencananya untuk membeli Greenland mengejutkan banyak orang.
ANCAMAN perdagangan Trump terhadap pemerintah Eropa terkait Greenland meningkatkan kemungkinan bahwa pemerintah Eropa akan mengurangi kepemilikan aset AS mereka.
PARA pemimpin Kristen senior di Jerusalem, Palestina, memperingatkan campur tangan pihak luar yang mengancam masa depan Kekristenan di Tanah Suci, khususnya Zionisme Kristen.
PARA penasihat Presiden AS tidak sabar menghadapi keberatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka terus mendorong fase kedua dari rencana perdamaian Gaza.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved