Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Butuh Rp9.890 Triliun untuk Rekonstruksi Ukraina

Dhika Kusuma Winata
24/2/2026 13:51
Butuh Rp9.890 Triliun untuk Rekonstruksi Ukraina
Dari kiri ke kanan: Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Pekka Kaihilahti, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Ukraina Yevhenia Shynkarenko, dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey.(Antara/Cindy Frishanti)

UKRAINA memerlukan dana sekitar US$588 miliar (setara Rp9.890 triliun) untuk memulihkan kerusakan akibat empat tahun perang menghadapi Rusia. Angka itu hampir tiga kali lipat dari proyeksi produk domestik bruto (PDB) Ukraina pada 2025.

Estimasi tersebut tertuang dalam laporan bersama World Bank, pemerintah Ukraina, United Nations, dan European Commission yang dirilis Senin (23/2) waktu setempat. Laporan itu menyebut kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi terus meningkat.

“Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi kini diperkirakan mencapai US$587,7 miliar dalam rentang 10 tahun, setara hampir tiga kali PDB Ukraina pada 2025,” demikian isi laporan tersebut.

Jumlah tersebut 12% lebih tinggi dibandingkan perkiraan tahun lalu. Kenaikan dipicu gelombang serangan Rusia selama musim dingin yang menghantam infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan jutaan warga kehilangan akses listrik dan pemanas.

Perhitungan dilakukan berdasarkan penilaian kerusakan hingga 31 Desember 2025. Setelah periode itu, Rusia kembali melancarkan serangan besar ke jaringan energi Ukraina, termasuk rentetan rudal dan drone yang menghancurkan sejumlah pembangkit listrik.

Empat tahun perang telah melumpuhkan perekonomian Ukraina. Sejumlah kota dan permukiman rata dengan tanah, sementara jutaan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Sejak invasi dimulai pada 24 Februari 2022, negara-negara Barat menjanjikan bantuan ratusan miliar dolar kepada Kyiv. Namun, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan militer dan menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek.

Besarnya kebutuhan dana rekonstruksi menunjukkan beban jangka panjang yang harus ditanggung Ukraina bahkan ketika konflik belum sepenuhnya mereda.

Jika dirinci per sektor, biaya rekonstruksi terbesar dibutuhkan pada sektor transportasi yang diperkirakan mencapai US$96 miliar. Sektor energi dan perumahan masing-masing memerlukan sekitar US$90 miliar.

Pembersihan puing serta penanganan bahan peledak, termasuk operasi penjinakan ranjau, diperkirakan membutuhkan US$28 miliar.

Wilayah garis depan seperti Donetsk dan Kharkiv menjadi daerah dengan kebutuhan investasi terbesar. Ibu kota Kyiv diperkirakan memerlukan lebih dari US$15 miliar untuk pemulihan. (AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya