Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Empat Tahun Perang Ukraina-Rusia, Belum Ada Titik Damai

Dhika Kusuma Winata
24/2/2026 13:45
Empat Tahun Perang Ukraina-Rusia, Belum Ada Titik Damai
Lapangan Merah di Moskow, Rusia, pada 15 November 2025.(ANTARA/Xinhua/Meng Jing)

INVASI besar-besaran Rusia ke Ukraina yang terjadi pada 24 Februari 2022 lalu kini memasuki usia empat tahun. Perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II itu belum juga menemukan titik akhir.

Konflik berkepanjangan tersebut mengakibatkan kehancuran luas, korban jiwa besar, tekanan ekonomi, serta perubahan politik dan sosial di kedua negara. Namun, sejumlah perundingan belum menghasilkan kesepakatan damai.

Serangan militer Rusia menghancurkan banyak wilayah di timur dan selatan Ukraina. Kota-kota seperti Bakhmut, Toretsk, dan Vovchansk luluh lantak akibat pertempuran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mencatat lebih dari 2.800 serangan terhadap fasilitas kesehatan sejak 2022. 

Sementara itu, gempuran terhadap infrastruktur energi membuat jutaan warga kehilangan akses listrik dan pemanas. Menurut Dinas Aksi Ranjau PBB, sekitar seperlima wilayah Ukraina kini tercemar ranjau atau bahan peledak yang belum meledak. 

Korban Jiwa

PBB memverifikasi lebih dari 15.000 warga sipil tewas sejak 2022. Namun, angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena PBB tidak memiliki akses ke wilayah yang diduduki Rusia, termasuk kota pelabuhan Mariupol yang dilaporkan menyaksikan ribuan kematian saat pengepungan Rusia. Serangan balasan Ukraina ke wilayah perbatasan Rusia juga menewaskan ratusan orang.

Pemerintah di Kyiv memerkirakan sekitar 20.000 anak telah dipindahkan secara paksa atau diculik dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Badan Pengungsi PBB mencatat sekitar 5,9 juta warga Ukraina kini tinggal di luar negeri, sementara 3,7 juta lainnya mengungsi di dalam negeri.

Data korban militer dari kedua pihak sulit diverifikasi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky awal bulan ini menyatakan 55.000 tentaranya gugur namun angka itu diyakini banyak pihak lebih rendah dari kondisi sebenarnya.

Adapun Rusia belum memperbarui data resmi korban sejak September 2022. Investigasi BBC bersama media independen Rusia, Mediazona, mengidentifikasi sedikitnya 177.000 tentara Rusia tewas menurut data obituari dan pengumuman keluarga serta pejabat lokal. Angka riil diyakini lebih tinggi. 

Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan hingga 325.000 tentara Rusia mungkin telah tewas sejak 2022 sedangkan korban militer kubu Ukraina diperkirakan berkisar 100.000-140.000 orang.

Rusia Kuasai 19,5% Wilayah Ukraina

Data dari Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan Rusia menguasai sekitar 19,5% wilayah Ukraina hingga pertengahan Februari 2026. Sekitar 7% wilayah termasuk Semenanjung Krimea dan sebagian Donbas telah dikuasai sebelum invasi 2022.

Kemajuan pasukan Moskow tahun lalu menjadi yang terbesar sejak awal perang, meski lajunya melambat dibanding bulan-bulan pertama invasi.

Kremlin mendorong penguasaan penuh wilayah Donetsk di timur Ukraina dan menuntut penghentian dukungan militer Barat kepada Kyiv. Ukraina menolak tuntutan tersebut. Pemerintah menyatakan menyerah pada syarat itu akan membuat negara rentan terhadap serangan lanjutan, bertentangan dengan konstitusi, dan tidak dapat diterima sebagian besar masyarakat.

Tekanan Ekonomi Imbas Perang

Perang juga menghantam keras ekonomi Ukraina dan membebani Rusia. Ukraina mengalami kontraksi hampir sepertiga produk domestik bruto pada tahun pertama invasi. Meski sempat pulih sebagian, Ukraina kini bergantung pada IMF dan kreditur asing untuk membiayai belanja negara.

Di Rusia, belanja militer yang mencapai sekitar 9% PDB sempat mendorong pertumbuhan. Namun, ekonomi hanya tumbuh sekitar 1% tahun lalu.

Pendapatan minyak dan gas turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir akibat sanksi Barat dan serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia.

Ukraina sangat bergantung pada pasokan senjata, intelijen, dan dana dari negara Barat. Lembaga Kiel di Jerman mencatat Eropa telah mengucurkan 201 miliar euro bantuan sejak 2022.

Amerika Serikat menggelontorkan total US$115 miliar. Namun, pemerintahan Trump sempat menangguhkan sebagian pengiriman senjata dan mendesak negara-negara Eropa menanggung porsi lebih besar.

Di pihak Rusia, Korea Utara dilaporkan mengirim ribuan tentara serta jutaan peluru artileri. Iran memasok teknologi drone sedangkan Tiongkok menjadi mitra ekonomi penting Moskow dan dituding negara Barat membantu Rusia menghindari dampak sanksi. (AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya