Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese Dituding Anti-Semit

Ferdian Ananda Majni
19/2/2026 15:33
Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese Dituding Anti-Semit
Penghancuran gedung tempat tinggal warga Palestina oleh Israel di Tepi Barat(Anadolu)

PELAPOR Khusus PBB Francesca Albanese menghadapi desakan mundur dari sejumlah negara Eropa setelah dituding menyebut Israel sebagai musuh bersama umat manusia. Tuduhan itu muncul usai beredarnya potongan video yang kemudian dipersoalkan keakuratannya oleh para pendukungnya.

Pemerintah Prancis dan Jerman meminta Albanese mundur menyusul dugaan pernyataan bernada anti-Semit tersebut. 

Pada 11 Februari, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan akan menuntut pengunduran diri Albanese dalam sesi Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Februari.

Namun, langkah itu menuai penolakan. Dalam surat terbuka yang dikirim kepada AFP, lebih dari 150 mantan diplomat dan anggota parlemen Eropa menyatakan keberatan terhadap sikap Barrot.

Mereka membela Albanese dan meminta Barrot menarik kembali pernyataannya, serta tidak menggunakan unsur-unsur tak akurat dan dimanipulasi untuk mendiskreditkan pemegang mandat PBB yang independen.

"Kontroversi ini tidak boleh mengalihkan perhatian dari pembantaian warga sipil, maupun dari krisis kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran di Gaza," tulis para eks diplomat dan politikus dalam surat tersebut.

Surat berbahasa Prancis itu ditandatangani sejumlah mantan menteri luar negeri dan diplomat asal Belanda. Selain itu, lebih dari selusin anggota parlemen dan senator Eropa yang masih aktif turut membubuhkan tanda tangan, bersama mantan menteri luar negeri Afrika Selatan.

Pernyataan di Doha dan Kontroversi Video

Polemik ini bermula dari pernyataan Albanese dalam sebuah forum di Doha pada 7 Februari yang diselenggarakan oleh Al Jazeera. Dalam kesempatan tersebut, ia mengkritik negara-negara yang dinilainya tidak menghentikan Israel, bahkan tetap memasok persenjataan.

"Fakta bahwa alih-alih menghentikan Israel, sebagian besar dunia malah mempersenjatai, memberi Israel alasan politik, perlindungan politik, dukungan ekonomi dan keuangan. Ini adalah sebuah tantangan," ucap Albanese.

Ia juga menyatakan bahwa hukum internasional telah ditikam tepat di jantungnya.

Namun, Albanese menambahkan bahwa situasi saat ini juga membuka peluang refleksi global. "Karena kita sekarang tahu bahwa kita sebagai umat manusia memiliki musuh bersama dan penghormatan terhadap kebebasan mendasar adalah jalan damai terakhir," sebutnya.

Organisasi nonpemerintah UN Watch kemudian menyebarkan potongan video yang telah diedit, yang dinilai secara keliru menggambarkan Albanese menyebut Israel sebagai musuh bersama umat manusia.

Klip video tersebut selanjutnya mendapat perhatian sejumlah pejabat Eropa, termasuk dari Austria, Ceko, Prancis, Jerman dan Italia, sehingga memicu polemik yang lebih luas di tingkat internasional. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya