Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Polisi Kenya Gunakan Teknologi Israel untuk Retas Ponsel Aktivis Pro-Demokrasi

Thalatie K Yani
18/2/2026 12:32
Polisi Kenya Gunakan Teknologi Israel untuk Retas Ponsel Aktivis Pro-Demokrasi
Ponsel aktivis Boniface Mwangi diretas polisi Kenya menggunakan teknologi Cellebrite asal Israel.(Media Sosial X)

SEBUAH laporan terbaru dari Citizen Lab mengungkapkan temuan mengejutkan terkait pelanggaran privasi digital di Kenya. Otoritas keamanan Kenya teridentifikasi menggunakan teknologi buatan perusahaan Israel, Cellebrite, untuk membobol ponsel milik aktivis pro-demokrasi terkemuka, Boniface Mwangi, saat ia berada dalam tahanan tahun lalu.

Peristiwa ini bermula ketika Mwangi ditangkap pada Juli lalu atas tuduhan kepemilikan amunisi secara ilegal, tuduhan yang disebut Amnesty International sebagai upaya intimidasi terhadap kritik yang sah. Saat ponselnya dikembalikan pihak berwenang, Mwangi menyadari ada yang tidak beres, salah satu ponsel pribadinya tidak lagi terlindungi kata sandi.

Pelanggaran Privasi yang Mendalam

Citizen Lab menyatakan dengan "keyakinan tinggi" bahwa perangkat Mwangi telah diekstraksi secara penuh. Teknologi Cellebrite memungkinkan polisi mengakses seluruh isi ponsel, mulai dari pesan singkat, foto keluarga, data finansial, hingga kata sandi sensitif.

Bagi Mwangi, yang berencana maju dalam pemilihan presiden 2027, akses ilegal ini adalah bentuk ancaman nyata. Kepada The Guardian, ia mengaku merasa tidak aman dan "telanjang" karena momen pribadi bersama istri dan anak-anaknya kini berada di tangan pemerintah.

"Kami tahu bahwa saya dimata-matai sepanjang waktu. Saya tahu panggilan telepon saya dipantau dan pesan-pesan saya dibaca," ujar Mwangi.

Ia menambahkan peran aktor non-negara yang menyediakan alat mata-mata ini sangat membahayakan nyawanya. "Dengan memberi pemerintah akses untuk memata-matai saya, mereka menempatkan hidup saya dalam bahaya," tegasnya.

Rekam Jejak Penyalahgunaan Cellebrite

Temuan ini menambah daftar panjang dugaan penyalahgunaan teknologi Cellebrite oleh pemerintah di berbagai negara untuk membungkam oposisi. Kasus serupa sebelumnya dilaporkan terjadi di Yordania, Myanmar, Botswana, hingga Belarusia. Di Kenya sendiri, perangkat mata-mata lain seperti FlexiSPY juga pernah ditemukan pada ponsel sineas lokal saat berada dalam pengawasan polisi.

John Scott-Railton, peneliti senior di Citizen Lab, memberikan peringatan keras mengenai tren ini.

"Ponsel Anda memegang kunci kehidupan Anda, dan pemerintah seharusnya tidak boleh mengambil isinya hanya karena mereka tidak suka dengan apa yang Anda katakan. Ketika Cellebrite menjual teknologi mereka kepada layanan keamanan yang memiliki rekam jejak penyalahgunaan, maka jurnalis, aktivis, dan orang-orang yang menyuarakan hati nurani berada dalam risiko."

Respons Perusahaan

Menanggapi laporan tersebut, pihak Cellebrite menyatakan mereka memiliki proses ketat untuk meninjau dugaan penyalahgunaan teknologi. Mereka mengklaim akan mengambil tindakan tegas, termasuk pemutusan lisensi, jika terdapat bukti yang kredibel.

Hingga saat ini, pihak kepolisian Kenya maupun kedutaan besar Kenya di Washington belum memberikan komentar resmi terkait temuan ini. Sementara itu, Mwangi dijadwalkan akan kembali hadir di pengadilan pada Rabu mendatang untuk melanjutkan proses hukumnya. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya