Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Prabowo Hadiri KTT Perdana Dewan Perdamaian di AS, PBNU Merespons

Ficky Ramadhan
12/2/2026 19:11
Prabowo Hadiri KTT Perdana Dewan Perdamaian di AS, PBNU Merespons
Rumah Palestina yang hancur akibat serangan Israel.(Al Jazeera)

PRESIDEN RI Prabowo Subianto dipastikan akan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang akan digelar di Amerika Serikat pada pekan depan. Kehadiran Prabowo dalam forum tersebut dinilai sebagai langkah realistis dalam upaya mencari solusi konflik Jalur Gaza, Palestina, yang hingga kini belum menemukan titik terang.

Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyampaikan bahwa pihaknya memandang keputusan Presiden Prabowo bergabung dalam inisiatif perdamaian tersebut sebagai langkah yang masuk akal secara politik dan diplomatik, meski menuai beragam kritik.

"PBNU memandang langkah Presiden Prabowo untuk bergabung di dalam inisiatif Presiden Trump dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace sebagai langkah yang secara realistis masuk akal. Tentu saja banyak kritik dari kiri kanan, tetapi PBNU mendukung langkah pemerintah ini dan memahami alasan-alasan yang sudah dikemukakan oleh Pak Prabowo di dalam pertemuan terbatas dengan tokoh-tokoh dari berbagai ormas Islam beberapa waktu yang lalu," kata Gus Ulil saat dihubungi, Kamis (12/2).

Ia menilai inisiatif yang digagas tersebut memang belum tentu ideal sepenuhnya, tetapi menjadi satu-satunya opsi nyata yang saat ini tersedia di meja perundingan internasional.

"Saya kira sederhana saja di dalam mengukur inisiatif ini ya. Tentu saja inisiatif Trump ini inisiatif yang mungkin tidak ideal sepenuhnya, tetapi ini inisiatif yang secara de facto tersedia dan tidak ada alternatif lain sekarang, belum ada. Belum ada inisiatif lain untuk menyelesaikan masalah Gaza yang secara de facto itu tersedia di atas meja perundingan selain inisiatif ini," ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan sejumlah negara besar di Timur Tengah menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dipandang realistis, meskipun belum sepenuhnya memenuhi harapan semua pihak.

"Fakta bahwa negara-negara besar Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Emirat Arab, Mesir, dan yang lain-lain bergabung di dalam inisiatif ini menunjukkan bahwa negara-negara Arab itu juga memandang ini inisiatif yang realistis, tetapi mungkin tidak ideal. Kalau kita hanya inginkan sesuatu yang paling ideal, ya masalah Palestina ini tidak akan bergerak," ucapnya.

Gus Ulil juga menegaskan bahwa proses perundingan damai memang mengharuskan pertemuan dengan pihak yang selama ini berseberangan.

"Soal Presiden Prabowo duduk semeja dengan Netanyahu nanti, apa masalahnya? Ya namanya berunding ya tentu harus berunding dengan musuh. Dulu Bung Hatta dan para founding fathers kita juga berunding dengan Belanda di dalam KTT Meja Bundar," tuturnya.

"Ya namanya berunding tentu bertemu dengan musuh kita. Kalau tidak ada pertemuan dengan musuh kita, bagaimana kita bisa membicarakan solusi?" sambungnya.

PBNU berharap keterlibatan Indonesia dalam forum Dewan Perdamaian dapat memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya solusi damai yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina serta kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya