Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Ex Menhan Yoav Gallant Sebut Netanyahu Pembohong, Tuduh Manipulasi Narasi Serangan 7 Oktober

Haufan Hasyim Salengke
09/2/2026 08:50
Ex Menhan Yoav Gallant Sebut Netanyahu Pembohong, Tuduh Manipulasi Narasi Serangan 7 Oktober
Mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant terlihat bersama petugas di Komando Selatan IDF pada 9 Oktober 2023.(Kementerian Pertahanan Israel)

GEJOLAK politik di internal Israel kembali memanas setelah mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah wawancara televisi yang disiarkan Channel 12 pada Sabtu (7/2), Gallant secara terang-terangan menyebut Netanyahu sebagai sosok pembohong yang mencoba melarikan diri dari tanggung jawab atas kegagalan keamanan mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Pernyataan Gallant ini muncul sebagai respons atas dokumen setebal 55 halaman yang dirilis Netanyahu, yang isinya dianggap sebagai upaya sang perdana menteri untuk menyalahkan para petinggi militer dan keamanan atas serangan Hamas.

Gallant, yang dipecat oleh Netanyahu pada akhir 2024, menuduh mantan bosnya itu telah 'menikam dari belakang' jajaran pimpinan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan badan intelijen Shin Bet. Menurutnya, saat para prajurit sedang bertempur di garis depan, Netanyahu justru menghasut para menteri kabinet untuk melawan para kepala keamanan.

"Saya tidak pernah menyangka harus datang ke studio dan mengatakan: Perdana menteri kita adalah seorang pembohong," ujar Gallant dengan nada getir. Ia menambahkan bahwa prioritas pertama Netanyahu adalah dirinya sendiri, kemudian pemerintahannya, dan baru kemudian kepentingan negara.

Manipulasi fakta militer

Salah satu poin krusial yang diungkap Gallant adalah mengenai tertundanya operasi militer di Rafah pada awal 2024. Netanyahu selama ini mengeklaim penundaan tersebut disebabkan oleh ketakutan pimpinan IDF. Namun, Gallant membantah hal itu dan menegaskan bahwa penundaan terjadi karena militer sedang mengisi ulang pasokan amunisi untuk mengantisipasi potensi konflik di perbatasan utara.

"Dia (Netanyahu) hanya mau mengambil kredit atas keberhasilan, namun jika terjadi kegagalan, itu selalu menjadi tanggung jawab orang lain," tegas Gallant.

Serangan verbal Gallant ini semakin mempertegas narasi mengenai perpecahan mendalam di pemerintahan Israel di tengah kecaman internasional atas eskalasi di Gaza dan Tepi Barat. Para kritikus menilai langkah Netanyahu yang mencoba menjauhkan diri dari kegagalan 7 Oktober merupakan upaya untuk mempertahankan kekuasaan politiknya dengan mengorbankan integritas institusi keamanan negara.

Hingga berita ini diturunkan, kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan serius dari mantan menteri pertahanannya tersebut. (Times of Israel/B-3)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya