Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Kematian Saif al-Islam Khadafi: Akhir Ambisi Dinasti dan Ancaman Perang Saudara Baru di Libya

Putri Rosmalia Octaviyani
04/2/2026 15:47
Kematian Saif al-Islam Khadafi: Akhir Ambisi Dinasti dan Ancaman Perang Saudara Baru di Libya
Kota Zintan, Libya, tempat pembunuhan anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi.(Dok. Google Maps)

DUNIA internasional kini menyoroti Libya menyusul kabar tewasnya Saif al-Islam Khadafi di Zintan pada Selasa, 3 Februari 2026. Peristiwa pembunuhan anak Muammar Khadafi ini bukan hanya mengakhiri garis keturunan politik Muammar Khadafi, tetapi juga membuka kotak pandora kerawanan keamanan di Afrika Utara.

Analisis Risiko Destabilisasi Libya:

  • Fragmentasi Loyalis: Tanpa Saif sebagai figur pemersatu, kelompok loyalis Khadafi berisiko terpecah menjadi milisi-milisi kecil yang agresif.
  • Kegagalan Pemilu: Kematian tokoh kunci ini berpotensi menunda kembali jadwal Pemilihan Umum Libya yang sudah lama tertunda.
  • Eskalasi Militer: Potensi serangan balasan dari suku-suku di wilayah selatan yang masih setia kepada trah Khadafi.

Zintan dalam Status Siaga Tinggi

Pasca-operasi senyap yang menewaskan Saif al-Islam, Kota Zintan kini dijaga ketat oleh milisi lokal. Penutupan akses keluar-masuk kota dilakukan untuk mengantisipasi masuknya penyusup atau serangan balasan dari faksi rival. Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa suasana sangat mencekam, dengan kendaraan lapis baja mulai berpatroli di titik-titik strategis.

Sejauh ini, Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) di Tripoli belum memberikan pernyataan resmi mengenai siapa di balik unit komando bertopeng tersebut. Namun, spekulasi berkembang bahwa operasi ini melibatkan aktor profesional yang memiliki akses intelijen tingkat tinggi.

Dendam Lama yang Belum Padam

Kematian Saif al-Islam membuktikan bahwa bayang-bayang rezim lama masih menjadi ancaman bagi stabilitas faksi-faksi penguasa saat ini. Meskipun Saif telah mencoba mengubah citranya menjadi seorang reformis melalui pendidikan Baratnya di LSE, label sebagai putra diktator tidak pernah benar-benar lepas darinya.

"Kematian Saif adalah pesan keras bahwa tidak ada tempat bagi restorasi dinasti Khadafi di Libya baru," ungkap seorang analis politik di Tripoli.

Kini, tantangan terbesar bagi komunitas internasional adalah memastikan bahwa insiden pembunuhan ini tidak memicu efek domino yang menghancurkan gencatan senjata yang telah susah payah dibangun selama beberapa tahun terakhir. Libya kembali berada di ujung tanduk antara rekonsiliasi atau kehancuran total. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya