Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Tragedi Sang Pewaris: Perjalanan Anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam, dari LSE London hingga Ajal di Zintan

Putri Rosmalia Octaviyani
04/2/2026 15:41
Tragedi Sang Pewaris: Perjalanan Anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam,  dari LSE London hingga Ajal di Zintan
Anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi (kanan).(Dok. MI)

PEMBUNUHAN anak Muammar Khadafi, Saif al-Islam Khadafi, pada Februari 2026 bukan sekadar berita kriminalitas politik biasa. Ini adalah penutup dari narasi panjang seorang pria yang terjepit di antara dua dunia: demokrasi Barat yang ia pelajari di London dan kekuasaan absolut ayahnya, Muammar Khadafi, di Tripoli, Libya.

Timeline Perjalanan Hidup Saif al-Islam:

2008 Meraih gelar PhD dari London School of Economics (LSE).
2011 Revolusi Libya meletus; Saif ditangkap milisi di Zintan saat mencoba kabur ke Niger.
2015-2021 Dijatuhi hukuman mati (in absentia), kemudian dibebaskan oleh milisi Zintan namun tetap dalam pengawasan.
2026 Tewas dalam operasi senyap komando bertopeng di kediamannya, Zintan.

Intelektual yang Terjebak dalam Pusaran Revolusi

Anak Muammad Khadafi tersebut pernah dianggap sebagai "Harapan Barat". Disertasinya di LSE membahas tentang peran masyarakat sipil dalam demokratisasi. Namun, saat krisis 2011 menghantam, ia justru muncul di televisi nasional dengan pidato yang mengancam para demonstran, sebuah langkah yang menghancurkan reputasi internasionalnya dalam semalam.

Selama belasan tahun setelah kejatuhan ayahnya, Saif hidup dalam ketidakpastian di Zintan. Meski secara fisik menjadi tahanan, ia secara politik tetap aktif menjalin komunikasi dengan berbagai faksi, bahkan sempat mendaftarkan diri sebagai calon presiden pada pemilu yang terus tertunda.

Akhir Tragis di Zintan

Laporan intelijen menyebutkan bahwa Saif al-Islam dieksekusi oleh unit komando profesional yang mengetahui celah keamanan di rumah persembunyiannya. Tidak ada teriakan atau perlawanan berarti; operasi tersebut berlangsung senyap dan mematikan. Dengan kematiannya, harapan para loyalis "Hijau" (pendukung Khadafi) untuk kembali berkuasa kini berada di titik nadir.

"Dia mati membawa rahasia besar tentang kekayaan dan jaringan ayahnya yang masih tersisa di luar negeri," tulis analisis intelijen regional.

Kini, Libya berdiri di persimpangan jalan tanpa sosok Saif al-Islam. Apakah kematiannya akan meredakan ketegangan, atau justru memicu gelombang balas dendam baru dari suku-suku pendukungnya, hanya waktu yang akan menjawab. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya