Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Trump Peringatkan Iran: Armada Besar AS Bergerak Menuju Kawasan

Irvan Sihombing
28/1/2026 22:20
Trump Peringatkan Iran: Armada Besar AS Bergerak Menuju Kawasan
Presiden AS Donald Trump.(Xinhua)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menegaskan “armada besar” militer AS tengah bergerak menuju kawasan sekitar Iran. Ia pun  memperingatkan Teheran agar segera membuka jalur negosiasi di tengah meningkatnya ancaman kemungkinan serangan militer Amerika Serikat.

“Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan besar, antusiasme, dan tujuan yang jelas,” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, tanpa merinci lebih lanjut misi atau target pengerahan tersebut.

Trump menambahkan tekanan militer itu dimaksudkan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan. “Semoga Iran segera ‘datang ke meja perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara—tanpa senjata nuklir—yang baik bagi semua pihak,” tulisnya.

Pernyataan itu muncul seiring langkah Washington yang telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali ke kawasan tersebut. Armada laut itu memiliki kemampuan melancarkan serangan dari laut, sehingga meningkatkan spekulasi mengenai kesiapan militer AS jika konflik meningkat.

Meski demikian, hingga kini belum jelas keputusan apa yang akan diambil Trump terkait penggunaan kekuatan militer secara langsung. Namun, ia telah menetapkan dua garis merah yang disebutnya tidak dapat ditoleransi, yakni pembunuhan terhadap demonstran damai serta kemungkinan eksekusi massal terhadap para tahanan.

Ancaman itu muncul di tengah krisis internal Iran yang dipicu gelombang protes besar-besaran sejak 28 Desember. Aksi demonstrasi tersebut meletus akibat runtuhnya nilai mata uang rial dan melonjaknya biaya hidup, lalu dibalas dengan tindakan keras aparat keamanan.

Menurut sejumlah organisasi non-pemerintah dan sumber di dalam Iran, jumlah korban tewas akibat penindakan aparat diperkirakan berada di kisaran 6.000 hingga 30.000 orang. Angka tersebut masih sulit diverifikasi secara independen.

Pada Rabu, lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 6.221 orang tewas. Dari jumlah tersebut, 5.858 di antaranya adalah pengunjuk rasa, 214 pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah, 100 anak-anak, serta 49 warga sipil yang tidak terlibat demonstrasi. HRANA juga menyebut lebih dari 42.300 orang telah ditangkap sejak gelombang protes dimulai.

Verifikasi independen atas data tersebut tetap menjadi tantangan, mengingat media pemerintah Iran kini menjadi satu-satunya sumber informasi bagi banyak pihak setelah Teheran memutus akses internet selama lebih dari tiga minggu.

Pemerintah Iran sendiri mengeklaim jumlah korban jauh lebih rendah. Otoritas resmi menyebut angka kematian sebanyak 3.117 orang, dengan rincian 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan pasukan keamanan. Sementara korban lainnya dilabeli sebagai “teroris” oleh pemerintah.

Perbedaan data yang mencolok antara versi pemerintah dan laporan kelompok hak asasi manusia semakin mempertegas kabut informasi yang menyelimuti krisis Iran, di saat tekanan internasional termasuk dari Amerika Serikat terus meningkat. (Euronews.com/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya