Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA Serikat resmi mengerahkan kekuatan tempur lautnya, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, menuju kawasan Iran. Langkah militer ini merupakan bentuk tekanan nyata Washington untuk memaksa Teheran segera membuka jalur negosiasi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa “armada besar” tersebut tengah bergerak dengan tujuan yang jelas di tengah meningkatnya ancaman serangan militer AS.
“Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan besar, antusiasme, dan tujuan yang jelas,” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, tanpa merinci lebih lanjut misi atau target pengerahan tersebut.
Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali ini meningkatkan spekulasi mengenai kesiapan perang Amerika Serikat. Armada laut tersebut memiliki kemampuan melancarkan serangan masif dari laut jika konflik terus meruncing.
Trump menambahkan bahwa pengerahan kekuatan tempur ini dimaksudkan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan terkait program nuklir.
“Semoga Iran segera ‘datang ke meja perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara—tanpa senjata nuklir—yang baik bagi semua pihak,” tulisnya.
Meski demikian, Trump belum mengumumkan keputusan akhir terkait penggunaan kekuatan militer secara langsung. Ia menetapkan dua "garis merah" yang tidak dapat ditoleransi: pembunuhan terhadap demonstran damai serta kemungkinan eksekusi massal terhadap para tahanan di Iran.
Ancaman militer AS ini muncul di tengah krisis internal Iran yang dipicu gelombang protes besar sejak 28 Desember akibat runtuhnya nilai mata uang rial dan lonjakan biaya hidup. Aksi tersebut dibalas dengan tindakan keras aparat keamanan yang memicu jatuhnya ribuan korban jiwa.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan data korban sebagai berikut:
Verifikasi independen atas data tersebut sulit dilakukan karena pemerintah Iran telah memutus akses internet selama lebih dari tiga minggu. Sebaliknya, otoritas Teheran mengeklaim jumlah korban jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang, seraya melabeli mereka sebagai “teroris”.
Perbedaan data yang mencolok ini mempertegas kabut informasi yang menyelimuti Iran, di saat kehadiran USS Abraham Lincoln di perairan sekitar semakin memperkuat tekanan internasional terhadap rezim tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menegaskan tidak ada komunikasi dengan pihak Paman Sam termasuk tidak ada kontak baru-baru ini dengan utusan Amerika Serikat (AS) Steve Witkoff.
"Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan kami tidak melakukan pembicaraan," ucap Araghchi kepada media pemerintah seperti dikutip Kantor Berita Fars. (Euronews.com/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved