Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mengapa WNI Bekerja di Kamboja yang Jadi Surga Scam Online?

mediaindonesia.com
27/1/2026 11:23
Mengapa WNI Bekerja di Kamboja yang Jadi Surga Scam Online?
WNI di Kamboja.(Dok. Kemenlu)

Mengapa Kamboja Menjadi Surga Scam Online? Menelusuri Jejak 'Cyber Slavery' di Asia Tenggara

Dalam satu dekade terakhir, citra Kamboja mengalami pergeseran drastis di mata dunia internasional. Dari negara yang dikenal dengan keagungan situs warisan dunia Angkor Wat, kini Kamboja sering kali menjadi berita utama karena alasan yang jauh lebih kelam: menjadi episentrum kejahatan siber dan penipuan online (scamming) di Asia Tenggara.

Hingga tahun 2026 ini, laporan mengenai Warga Negara Indonesia (WNI) yang terjebak dalam sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja masih terus bermunculan, meski upaya diplomasi terus dilakukan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Mengapa Kamboja? Faktor apa yang membuat negara ini menjadi lahan subur bagi sindikat kriminal transnasional untuk mendirikan markas operasi mereka?

Berikut adalah analisis mendalam mengenai akar masalah yang menjadikan Kamboja sebagai "surga" bagi industri penipuan online.

1. Transformasi Sihanoukville: Dari Kota Pantai ke Kasino, Lalu Benteng Scam

Untuk memahami situasi saat ini, kita harus melihat ke kota Sihanoukville. Awalnya, kota ini adalah destinasi wisata pantai yang tenang. Namun, pada pertengahan dekade 2010-an, investasi besar-besaran dari Tiongkok mengubah wajah kota ini menjadi pusat perjudian yang masif.

Titik balik terjadi pada tahun 2019 ketika Perdana Menteri Kamboja saat itu, Hun Sen, di bawah tekanan Beijing, melarang perjudian online. Larangan ini menyebabkan eksodus massal pekerja kasino, meninggalkan gedung-gedung tinggi yang kosong dan belum selesai dibangun.

Kekosongan ini dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan terorganisir. Gedung-gedung kasino dan hotel yang terbengkalai diubah menjadi "kompleks tertutup" dengan keamanan tinggi, yang kini dikenal sebagai pabrik scam. Infrastruktur internet yang sudah terbangun untuk kasino sangat ideal untuk operasi penipuan siber.

2. Lemah Penegakan Hukum dan Masalah Korupsi Sistemik

Faktor utama yang membuat sindikat ini betah adalah iklim impunitas. Berbagai laporan investigasi internasional dan PBB menyoroti adanya hubungan simbiosis antara sindikat kriminal dengan oknum pejabat setempat.

Korupsi yang sistemik memungkinkan para operator scam untuk:

  • Mendapatkan perlindungan dari penggerebekan polisi.
  • Memalsukan dokumen visa dan izin kerja bagi korban perdagangan manusia.
  • Mengubah kompleks operasi mereka menjadi zona "tak tersentuh" hukum.

Bahkan ketika penggerebekan dilakukan, sering kali hanya pekerja tingkat rendah (yang seringkali juga korban) yang ditangkap, sementara otak di balik operasi tersebut tetap bebas atau hanya berpindah lokasi.

3. Fenomena 'Cyber Slavery' (Perbudakan Siber)

Istilah Cyber Slavery menjadi terminologi yang lekat dengan industri scam di Kamboja. Para pelaku tidak bekerja secara sukarela. Mereka adalah korban penipuan lowongan kerja.

Modus Operandi Perekrutan Korban

Sindikat merekrut korban dari negara-negara tetangga seperti Indonesia, Vietnam, Tailan, Malaysia, dan Tiongkok dengan iming-iming:

  • Gaji tinggi dalam Mata Uang Rupiah atau Dolar AS (seringkali dijanjikan Rp15 juta - Rp30 juta per bulan).
  • Posisi sebagai Customer Service atau Admin Slot.
  • Fasilitas tiket pesawat dan akomodasi gratis.

Sesampainya di sana, paspor ditahan, dan mereka dipaksa melakukan penipuan investasi bodong (crypto fraud) atau love scam (pig butchering) di bawah ancaman kekerasan fisik.

4. Ketergantungan Ekonomi dan Investasi Asing

Secara makroekonomi, Kamboja sangat bergantung pada investasi asing, terutama dari Tiongkok. Sektor properti dan pariwisata (termasuk kasino sebelumnya) menyumbang porsi besar pada PDB negara tersebut.

Meskipun pemerintah Kamboja telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk memberantas kejahatan ini, tantangan ekonomi membuat penutupan total industri "bawah tanah" ini menjadi sulit. Uang yang berputar dalam industri scam ini sangat besar, menciptakan ekonomi bayangan yang menghidupi sektor riil di sekitarnya, mulai dari penyewaan gedung, katering, hingga keamanan swasta.

5. Evolusi Taktik Sindikat di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, taktik sindikat scam di Kamboja telah berevolusi menjadi lebih canggih. Jika sebelumnya mereka hanya menggunakan skrip sederhana, kini mereka memanfaatkan teknologi Deepfake dan AI Voice Cloning untuk meyakinkan korban.

Jenis Scam Target Korban Tingkat Kerugian
Pig Butchering (Jagal Babi) Profesional mapan, pengguna aplikasi kencan Sangat Tinggi (Investasi palsu jangka panjang)
E-commerce Scam Ibu rumah tangga, mahasiswa Menengah (Tugas fiktif berbayar)
Impersonation (Penyamaran) Pejabat publik, keluarga Tinggi (Memanfaatkan AI/Deepfake)

Kesimpulan: Tantangan Regional ASEAN

Masalah scam online di Kamboja bukan lagi sekadar masalah domestik negara tersebut, melainkan krisis regional ASEAN. Selama kesenjangan ekonomi masih tinggi dan penegakan hukum lintas negara masih lemah, Kamboja dan wilayah perbatasan Sungai Mekong lainnya akan tetap menjadi surga bagi para penipu.

Bagi masyarakat Indonesia, kewaspadaan adalah kunci. Tawaran kerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi pemerintah (seperti melalui BP2MI) dengan gaji fantastis hampir dipastikan adalah jebakan menuju perbudakan modern.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya