Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

AS: Rusia dan Ukraina Ambil Langkah Besar dalam Perundingan Abu Dhabi

Dhika Kusuma Winata
25/1/2026 13:10
AS: Rusia dan Ukraina Ambil Langkah Besar dalam Perundingan Abu Dhabi
Presiden Rusia Vladimir Putin.(Xinhua)

PEMERINTAH Amerika Serikat menilai Rusia dan Ukraina telah mengambil langkah signifikan menuju penyelesaian konflik setelah kedua negara sepakat melanjutkan perundingan damai langsung di bawah mediasi Washington. Kesepakatan penting ini dicapai usai pertemuan intensif selama dua hari di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Sabtu (24/1).

Seorang pejabat AS memberikan apresiasi tinggi terhadap hasil pertemuan tersebut. 

“Menurut saya, keberhasilan mempertemukan semua pihak saja sudah merupakan langkah besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hal ini menjadi konfirmasi bahwa banyak kemajuan telah dicapai, “terutama dalam merumuskan detail yang dibutuhkan untuk mencapai penyelesaian."

Dialog di Abu Dhabi ini menandai pertemuan tatap muka pertama bagi delegasi Rusia dan Ukraina dalam kerangka rencana perdamaian yang didorong oleh Presiden AS Donald Trump guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun. 

Sebelumnya, kedua pihak terakhir kali bertemu langsung di Istanbul pada musim panas tahun lalu, yang saat itu hanya menghasilkan kesepakatan pertukaran tawanan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa pembahasan berjalan dengan sangat serius. 

“Banyak hal dibicarakan, dan yang terpenting adalah diskusi berjalan secara konstruktif,” kata Zelensky. Pertemuan yang melibatkan perwira militer senior dari kedua pihak ini dilaporkan fokus pada elemen-elemen kerangka perdamaian usulan AS dan langkah-langkah membangun kepercayaan.

Namun, di balik suasana konstruktif tersebut, isu status wilayah Donbas di Ukraina timur tetap menjadi tembok penghalang utama. Kremlin secara tegas menuntut Ukraina menarik pasukan dari wilayah tersebut, sementara Kyiv menolak keras tuntutan itu. 

Selain itu, dinamika perundingan juga diwarnai kritik terhadap sejumlah draf awal rencana damai AS yang dinilai terlalu mengakomodasi kepentingan Rusia. Sebaliknya, Moskow juga menolak versi lanjutan yang mengusulkan kehadiran pasukan penjaga perdamaian Eropa di Ukraina.

Presiden Vladimir Putin berulang kali menyatakan bahwa Moskow akan berupaya merebut kendali penuh atas Ukraina timur dengan kekuatan militer jika jalur diplomasi menemui kegagalan. 

Ancaman ini tampak nyata di lapangan saat serangan drone dan rudal Rusia melanda Kyiv dan Chernihiv menjelang hari kedua pertemuan. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari satu juta warga kehilangan listrik dan separuh apartemen di Kyiv terputus dari sistem pemanas.

Situasi ini memicu pesimisme mendalam di kalangan warga sipil. Anastasia Tolkachov, warga Kyiv, menyatakan keraguannya atas hasil negosiasi tersebut. 

“Mereka akan bilang semuanya baik-baik saja, lalu lagi-lagi tidak ada kesepakatan, dan roket akan kembali menghantam,” ujarnya. Sentimen serupa disampaikan oleh Iryna Berehova yang merasa lelah dengan konflik yang berlarut-larut. 

“Semua ini terus berulang. Ledakan, kami tidak bisa tidur dan kekhawatiran akan keselamatan anak-anak sangat melelahkan. Negosiasi yang berlangsung bahkan tidak memberi kami harapan," ungkapnya. (AFP/Dhk/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya