Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PUSAT Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) dari NOAA mengonfirmasi lontaran massa korona (CME) kolosal telah menghantam Bumi, Senin (19/1) waktu Amerika Serikat. Dampaknya memicu badai geomagnetik tingkat "parah" (G4) yang berpotensi membawa penampakan cahaya kutub atau Aurora Borealis jauh lebih ke selatan dari biasanya pada malam 19 hingga 20 Januari.
Kondisi badai G4 pertama kali tercatat pada pukul 14.38 EST (19.38 GMT). Berdasarkan laporan NOAA, dampak CME ini masih berlangsung dan diperkirakan terus berlanjut hingga malam hari. Fenomena ini bermula dari jilatan api matahari kelas-X (X-class solar flare) yang kuat pada 18 Januari, yang melesat menuju Bumi dengan kecepatan luar biasa antara 1.000 hingga 1.400 km/detik.
Peta prakiraan terbaru menunjukkan penduduk di 24 negara bagian Amerika Serikat memiliki peluang besar untuk menyaksikan aurora di langit malam mereka jika cuaca cerah. Wilayah tersebut meliputi:
Namun, para ahli mengingatkan aurora bersifat sangat fluktuatif. Jika kondisi badai menguat, cahaya ini bisa terlihat lebih jauh ke selatan. Sebaliknya, jika orientasi magnetik tidak selaras, pertunjukan cahaya tersebut mungkin tidak muncul sama sekali.
Keberhasilan munculnya aurora sangat bergantung pada orientasi magnetik CME saat bersentuhan dengan medan magnet Bumi. Jika medan magnet CME mengarah ke selatan, maka energi matahari dapat menyatu dengan atmosfer Bumi dan memicu badai geomagnetik yang memukau.
"Jika berorientasi ke utara, medan magnet Bumi akan menangkis sebagian besar energi tersebut, dan pertunjukan mungkin tidak akan pernah terwujud," tulis laporan prakiraan tersebut. Para ilmuwan terus memantau data dari satelit DSCOVR dan ACE yang berada sejauh satu juta mil dari Bumi untuk memastikan arah magnetik ini secara langsung.
Meskipun prakiraan resmi menunjukkan puncak badai G4 terjadi antara pukul 01.00 hingga 04.00 EST pada 20 Januari, kondisi ekstrem ternyata sudah teramati lebih awal dari jadwal.
Bagi para pemburu aurora, disarankan untuk mulai memantau langit segera setelah hari gelap. Pastikan baterai kamera terisi penuh dan langit dalam keadaan bersih dari awan. Mengingat aktivitas geomagnetik yang sudah tinggi sejak sore hari, aurora bisa muncul secara tiba-tiba tanpa menunggu tengah malam. (Space/Z-2)
Fenomena hujan meteor Draconid akan mencapai puncaknya pada Rabu, 8 Oktober 2025. Saksikan keindahan “fireball” Draconid yang muncul setelah senja.
Badai matahari yang kuat diperkirakan akan menghantam Bumi, berpotensi menyebabkan aurora terlihat di wilayah selatan Amerika Serikat.
SWPC NOAA mengeluarkan peringatan badai geomagnetik G3 yang dipicu oleh dua peristiwa matahari besar.
Aurora borealis kembali menerangi langit Inggris, dengan penampakan paling jelas terlihat di Skotlandia, Irlandia Utara, dan Inggris utara pada Kamis malam.
Warna-warni langit mulai terlihat pertama kali pada Minggu (11/8) malam waktu setempat hingga Senin (12/8) pagi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved